Rhany Chairunissa Rufinaldo
20 September 2018•Update: 20 September 2018
Handan Gunes
ISTANBUL
Turki menargetkan untuk merampungkan perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) dengan Jepang paling lambat pada paruh pertama 2019, kata menteri industri dan teknologi Turki, Rabu.
Pernyataan Mustafa Varank disampaikan pada Pertemuan Gabungan Dewan Bisnis Turki-Jepang ke-24 yang diselenggarakan oleh Dewan Hubungan Ekonomi Luar Negeri Turki (DEIK) di Istanbul.
Varank mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan Jepang telah lama beroperasi di Turki dan berkontribusi pada produksi, ekspor dan lapangan pekerjaan di negara tersebut.
"Menurut angka di bulan Juni, sekitar 227 perusahaan Jepang beroperasi di Turki," kata Varank, menambahkan bahwa kementerian itu berusaha untuk meningkatkan jumlah ini, terutama di sektor yang bernilai tambah tinggi.
Dia menambahkan bahwa perjanjian Promosi Timbal Balik dan Perlindungan Investasi antara Turki dan Jepang ditandatangani pada tahun 1993.
"Negosiasi untuk FTA sedang berlangsung, yang akan menggantikan perjanjian ini dan memberikan hak baru kepada investor," kata Varank.
Varank menyoroti bahwa Turki menarik sekitar USD14 miliar dalam investasi langsung asing (FDI) selama periode 1975 hingga 2002, sementara dalam 16 tahun terakhir, angka FDI naik menjadi USD200 miliar berkat stabilitas politik dan ekonomi di negara tersebut.
"Dalam periode ini, Jepang dengan USD2,7 miliar berada di peringkat ke-15 di antara negara-negara yang membawa modal ke Turki. Saya pikir angka ini tidak mencerminkan potensi saat ini dan saya berharap kami akan bekerja lebih keras untuk meningkatkannya," katanya.
Varank juga mengatakan bahwa dia berencana untuk menghadiri pertemuan investor yang akan diadakan di ibu kota Ankara pada akhir 2018 dengan Kedutaan Besar Jepang, menambahkan bahwa dia juga berencana untuk bertemu dengan investor di Tokyo pada awal 2019.
Dia juga menunjuk ke sistem insentif investasi berbasis proyek yang dimulai enam tahun lalu untuk memperkuat rantai investasi, produksi, dan ekspor di negara ini.
"Dengan sistem insentif investasi berbasis proyek, kami sejauh ini telah mendukung 23 proyek dengan jumlah investasi TRY135 miliar [USD21,5 miliar]" dia menambahkan.