Rhany Chairunissa Rufinaldo
07 September 2020•Update: 08 September 2020
Faruk Zorlu
ANKARA
Turki mengkritik Prancis atas buku teks yang akan digunakan di sekolah menengah negara itu yang berisi propaganda dari organisasi teroris YPG/PKK.
"Buku teks, yang disiapkan oleh penerbit untuk diajarkan di sekolah menengah di Prancis, memuat informasi mengenai Kurdi yang sejalan dengan ideologi separatis organisasi teroris YPG/PKK," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Hami Aksoy dalam sebuah pernyataan. .
Menurut dia, pandangan dan peringatan dalam pernyataan Turki sebelumnya - mengenai dukungan Prancis kepada organisasi teroris, yang mengancam keamanan nasional Turki dan bersikeras pada kesalahan menyamakan Kurdi Suriah dengan PKK/YPG - masih berlaku.
Aksoy mengatakan upaya Prancis untuk membangun preferensi kebijakan luar negerinya di hampir semua masalah berdasarkan retorika anti-Turki dan mencoba untuk memutarbalikkan kebenaran sejarah dan hukum sangat mengkhawatirkan.
“Propaganda teroris yang merupakan hasil dari kebijakan resmi Prancis ini jelas diawali dengan keberanian yang diambil dari mereka yang menjadi tuan rumah perwakilan organisasi teroris di Istana Kepresidenan,” tegas dia.
Alasan yang mendasari tuduhan tidak berdasar ini adalah kekecewaan mendalam yang berasal dari pukulan yang dilakukan Turki dengan Operasi Mata Air Perdamaian terhadap rencana Prancis untuk mendirikan negara teroris.
"Pihak berwenang Prancis menggambarkan operasi kontra-terorisme Turki - yang dilakukan untuk memastikan keamanan dan stabilitas di kawasan dalam rangka menghormati integritas teritorial Suriah - sebagai upaya invasi," ungkap Aksoy.
Dia menambahkan bahwa presentasi yang menyimpang dari dogma ideologis dan kepentingan politik dalam buku teks menimbulkan bahaya serius bagi generasi mendatang, dan Turki akan terus mengawasi masalah ini sampai Prancis memperbaiki kesalahannya di sektor pendidikan.
Sejak 2016, Turki telah meluncurkan tiga operasi anti-teroris melintasi perbatasannya di Suriah utara untuk mencegah pembentukan koridor teror dan memungkinkan penyelesaian damai oleh penduduk setempat, yaitu Perisai Eufrat (2016), Cabang Zaitun (2018), dan Mata Air Perdamaian ( 2019).
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS, dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak, dan bayi. Sementara YPG adalah cabang PKK di Suriah.