Muhammad Abdullah Azzam
06 Januari 2020•Update: 06 Januari 2020
Tevfik Durul, Nazli Yuzbasioglu
ANKARA
Turki menentang pengiriman tentara bayaran ke Libya karena mereka akan menghalangi upaya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas, kata Menteri Luar Negeri Turki pada Senin.
"Kami menentang tentara bayaran yang datang ke Libya. Menurut kami tentara bayaran tidak akan menguntungkan perdamaian dan stabilitas negara," ungkap Mevlut Cavusoglu pada konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Sudan Selatan di Ankara.
"Namun, tujuan utama kami adalah untuk mengupayakan gencatan senjata sesegera mungkin dan berkontribusi pada proses politik serta mempercepatnya," kata Cavusoglu menekankan satu-satunya penyelesaian adalah solusi politik.
Dia juga menekankan bahwa Turki mendukung dialog antara Sudan dan Sudan Selatan di mana mereka melalui proses serupa.
Parlemen Turki pekan lalu mengesahkan mosi yang memungkinkan pengiriman pasukan ke Libya selama satu tahun untuk merespons ancaman dari kelompok bersenjata ilegal dan kelompok teror lain yang menargetkan kepentingan nasional kedua negara.
Resolusi tersebut juga bertujuan untuk menjaga keamanan di Libya dalam menghadapi kemungkinan migrasi massal serta memberikan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Libya.
Pasukan Turki dapat meluncurkan "operasi dan intervensi [militer]" untuk melindungi kepentingan Turki dan mencegah keadaan yang tak diinginkan.
Sejak penggulingan pemimpin lama Muammar Khaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan telah muncul di Libya: satu di Libya timur didukung terutama oleh Mesir dan Uni Emirat Arab dan satu lagi di Tripoli, yang diakui oleh PBB dan internasional.