Maria Elisa Hospita
11 April 2018•Update: 12 April 2018
Fatih Erel
JENEWA
Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) pada Selasa memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan di Ghouta Timur semakin memburuk, di mana puluhan ribu warga sipil masih terperangkap.
Dalam konferensi pers PBB di Jenewa, juru bicara UNHCR Andrej Mahecic mengatakan, "Kami memperkirakan bahwa lebih dari 133.000 jiwa telah melarikan diri dari Ghouta Timur selama empat pekan terakhir,"
"Yang menjadi perhatian khusus kami adalah nasib puluhan ribu warga sipil yang masih terperangkap," tambah dia.
Mahecic juga mengatakan bahwa PBB belum memiliki akses kemanusiaan ke Ghouta Timur untuk menyalurkan bantuan.
Dia mengimbau kepada semua pihak untuk mengutamakan keselamatan penduduk sipil, termasuk kebebasan berpindah dan memilih tempat tinggal.
Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 2401 yang menyerukan gencatan senjata selama sebulan di Suriah - terutama di Ghouta Timur - untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Meskipun begitu, bulan lalu, rezim Bashar al-Assad meluncurkan serangan darat - yang didukung oleh Rusia - untuk mengambil alih kubu pertahanan terakhir oposisi.
Pinggiran kota Damaskus di Ghouta Timur telah terkepung selama lima tahun terakhir, dan akses bantuan kemanusiaan ke wilayah itu - yang merupakan rumah bagi sekitar 400.000 jiwa - telah benar-benar terputus.
Selama delapan bulan terakhir, pasukan rezim Assad telah meningkatkan pengepungan mereka, sehingga hampir tidak mungkin makanan atau obat-obatan masuk ke distrik itu.
Bulan lalu, komisi penyelidikan PBB merilis laporan yang menuding rezim Assad telah melakukan kejahatan perang di Ghouta Timur, termasuk penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil.