TEHERAN
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell pada Kamis berbicara dengan menteri luar negeri Iran via telepon untuk membahas program nuklir Teheran menjelang putaran lain negosiasi tentang nuklir di Wina.
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian, Borrell meminta Teheran untuk menyingkirkan "beberapa kekhawatiran mengenai program nuklir Iran," menurut sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Iran.
Pada percakapannya dengan Amir-Abdollahian, Borrel sebelumnya mengatakan di Twitter, "Saya menyerukan bahwa kita perlu maju lebih cepat dalam negosiasi untuk memulihkan kesepakatan."
Amir-Abdollahian mencatat manfaat dari pertemuan di Wina mengenai kesepakatan nuklir Iran, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA), dan menambahkan bahwa Iran akan bekerja sama erat dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Mengkritik pernyataan baru-baru ini oleh negara-negara Eropa tentang negosiasi, dia memperingatkan bahwa ini tidak konstruktif dan dapat memperlambat proses kesepakatan dengan memperumit persyaratan.
Dia mengklaim bahwa program nuklir Iran adalah damai, menggarisbawahi bahwa "menyelesaikan masalah nuklir secara langsung berkaitan dengan pencabutan sanksi."
JCPOA ditandatangani pada 2015 oleh Iran, Amerika Serikat (AS), China, Rusia, Prancis, Inggris, Jerman, dan Uni Eropa.
Berdasarkan perjanjian tersebut, Teheran telah berkomitmen untuk membatasi aktivitas nuklirnya untuk tujuan sipil dan sebagai imbalannya, kekuatan dunia setuju untuk menjatuhkan sanksi ekonomi mereka terhadap Iran.
Tetapi pada 2018, Presiden Donald Trump saat itu secara sepihak menarik AS dari perjanjian dan memberlakukan kembali sanksi keras terhadap Iran, mendorong Teheran untuk berhenti mematuhi kesepakatan tersebut.
Iran dan kekuatan dunia pada 29 November memulai pembicaraan di Wina dalam upaya terakhir untuk memulihkan kesepakatan nuklir 2015.