Maria Elisa Hospita
24 Agustus 2018•Update: 24 Agustus 2018
Mutasim Billah
COX'S BAZAR, Bangladesh
UNICEF menyerukan investasi ke kamp-kamp pengungsi di Cox's Bazar, Bangladesh, untuk pemenuhan hak anak-anak Rohingya dalam jangka panjang.
Seruan itu disampaikan dalam laporan berjudul, 'Masa Depan dalam Keseimbangan: Membangun Harapan untuk Generasi Anak-anak Rohingnya', yang dirilis untuk menandai satu tahun masuknya para pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, yang melarikan diri dari negara bagian Rakhine, Myanmar.
Perwakilan Unicef untuk Bangladesh, Edouard Beigbeder, mengatakan bahwa investasi dalam pendidikan untuk anak-anak Rohingya sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan masa depan kelompok minoritas itu.
“Jika kita tidak melakukan investasi pendidikan sekarang, maka kita akan menghadapi bahaya nyata dari 'generasi Rohingya yang hilang', karena anak-anak tidak memiliki keterampilan yang mereka butuhkan untuk menghadapi situasi mereka saat ini, dan mereka tidak akan mampu berkontribusi pada masyarakat jika mereka dapat kembali ke Myanmar,” jelas Beigbeder.
Anak-anak di kamp pengungsi “menghadapi masa depan yang suram, karena memiliki sedikit kesempatan untuk belajar, dan tidak tahu kapan mereka akan kembali ke rumah,” papar UNICEF dalam laporannya.
Dia menyerukan kepada masyarakat internasional untuk berinvestasi “dalam mendukung pendidikan berkualitas dan keterampilan untuk semua anak-anak Rohingya, terutama anak-anak perempuan yang beresiko dikucilkan.
Menurut UNICEF, pada Juli 2018, hanya 140.000 dari setengah juta anak-anak Rohingya di kamp-kamp yang terdaftar di 1.200 pusat belajar.
“Meskipun begitu, tidak ada kurikulum yang disepakati, ruang kelas kerap penuh sesak, dan berbagai keterbatasan fasilitas mendasar lainnya,” ungkap UNICEF.
Laporan itu juga mendesak pemerintah Myanmar untuk menjamin pendidikan bagi anak-anak Rohingya yang masih tinggal di negara bagian Rakhine.
UNICEF menekankan pentingnya "solusi abadi untuk krisis Rohingya".
Tahun ini, UNICEF mengajukan permohonan dana sebesar USD28,2 juta untuk pendidikan pengungsi Rohingya. Sejauh ini, 50 persen lebih dari jumlah itu telah diterima.
Sabtu, 25 Agustus 2018, akan menandai satu tahun sejak lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya - sebagian besar anak-anak dan perempuan - melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh, setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan ke terhadap komunitas Muslim minoritas.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh militer Myanmar sejak saat itu.
Rohingya, yang disebut-sebut PBB sebagai kaum paling teraniaya di dunia, telah menghadapi sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012 dan menewaskan puluhan jiwa.
PBB mencatat adanya pemerkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak-anak - pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh personel militer.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.