Maria Elisa Hospita
28 Desember 2018•Update: 29 Desember 2018
Omer Erdem
KHARTOUM
Sedikitnya 19 orang tewas dan 406 lainnya luka-luka di Sudan sejak gelombang protes dimulai pada 19 Desember karena memburuknya perekonomian negara itu.
Para demonstran memprotes krisis kebutuhan pokok, termasuk roti dan bahan bakar.
Menteri Informasi, Komunikasi, dan Teknologi Informasi Bushara Guma Aro mengatakan bahwa aksi protes mulanya berlangsung dengan damai dan tanpa intervensi dari polisi, tetapi kemudian berubah ricuh dan disertai tindak kekerasan.
Kantor berita SUNA menyebutkan tiga korban jiwa berasal dari Northern State, lima di Nahral-Neil State, enam di Gedarif State, tiga di White Nile State, dan dua lainnya adalah anggota pasukan keamanan.
Di antara korban luka, 219 adalah demonstran dan 187 adalah pasukan keamanan. Beberapa korban tewas atau terluka dalam konfrontasi antara pemilik toko dan demonstran yang berusaha menjarah toko.
Aro mengatakan pasukan keamanan telah menangkap 107 elemen milik kelompok bersenjata.
Menurut dia, pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi krisis, dan setelah 15 Januari, kebutuhan pokok akan terpenuhi.
Lewat media sosial, oposisi di Sudan telah menyerukan protes massal di seluruh penjuru negeri setelah salat Jumat.
Pada Selasa, pasukan keamanan Sudan membubarkan ribuan pengunjuk rasa yang berkumpul di Khartoum menuntut pengunduran diri Presiden Omar al-Bashir.
Al-Bashir - yang berkuasa sejak tahun 1989 - berjanji untuk melakukan reformasi ekonomi di tengah meningkatnya aksi protes atas kenaikan harga dan krisis bahan pokok.
Sudan yang berpenduduk 40 juta jiwa telah berjuang untuk pulih setelah kehilangan tiga perempat dari produksi minyaknya pada 2011, yaitu saat Sudan Selatan mendeklarasikan kemerdekaan.
Amerika Serikat mulai memberlakukan embargo ekonomi di Sudan pada 1997 karena alasan teror, kemudian berjanji untuk mencabutnya pada Januari mendatang.