Maria Elisa Hospita
28 Mei 2019•Update: 29 Mei 2019
Islamuddin Sajid
ISLAMABAD, Pakistan
Perdebatan sains dan agama telah memicu kontroversi lain di Pakistan karena pemerintah memperkenalkan Kalender Hijriyah untuk pertama kalinya.
Pada Minggu, Pakistan meluncurkan situs resmi untuk pengamatan bulan dan Kalender Hijriyah untuk lima tahun ke depan, yang menandai hari besar agama Islam, termasuk awal Ramadan, Idulfitri dan Idul Adha.
"Tujuannya untuk mengakhiri kontroversi seputar penampakan bulan di negara itu yang kerap jadi bahan perdebatan para ulama," jelas Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Fawad Hussain Chaudhry.
Pakistan memiliki komite Ruet-e-Hilal (penglihatan bulan) yang terdiri dari berbagai ulama.
Tugas komite yang dibentuk pada 1974 itu adalah mengumumkan hari libur keagamaan, yang diperkuat saksi di seluruh penjuru negeri yang juga mengamati bulan.
Namun, selama bertahun-tahun, kelompok ulama di Peshawar, mulai menentang komite dengan mengumumkan Ramadan dan Idulfitri sehari sebelumnya.
Tahun ini, kelompok Masjid Qasim Ali Khan, mengumumkan dimulainya Ramadan pada 6 Mei, sementara seluruh negara mengamatinya pada 7 Mei.
Sementara itu, ketua Komite Ruet-e-Hilal Mufti Muneeb-ur-Rehman menolak menggunakan Kalender Hijriyah.
Lewat postingan Facebook, Rehman mengatakan dia akan tetap mengikuti Syariah (hukum Islam) dan melihat bulan menggunakan mata telanjang.
"Mereka yang tidak akrab dengan masalah agama yang kompleks tidak semestinya berkomentar tentang hal ini," tegas dia.
Meskipun begitu, masyarakat justru menghargai upaya pemerintah untuk menyelesaikan kontroversi yang telah berlangsung selama satu dekade.
Banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim, termasuk Uni Emirat Arab dan Turki menggunakan Kalender Hijriyah untuk menandai hari libur dan hari besar keagamaan.