Astudestra Ajengrastrı
01 November 2018•Update: 01 November 2018
Ali Aweida
MAARIB, Yaman
Utusan PBB untuk Yaman Martin Griffiths berkata pada Rabu akan membawa pihak-pihak yang bertikai di Yaman duduk bersama dalam jangka waktu sebulan ini, untuk mengurai konflik di negara yang terkoyak perang tersebut.
"Kami tetap berkomitmen untuk membawa pihak-pihak bertikai di Yaman ke meja negosiasi dalam sebulan," ujar Griffiths melalui pernyataan yang dirilis dari kantornya.
"Dialog tetap menjadi satu-satunya jalan untuk mencapai kesepakatan inklusif," kata dia.
Komentar dari Utusan PBB ini muncul setelah adanya seruan dari para pejabat negara AS, Prancis dan Inggris untuk mengadakan gencatan senjata selama 30 hari di Yaman dan mengadakan negosiasi "serius" untuk mengakhiri perang.
"Saya mendesak semua pihak yang terlibat untuk mengambil kesempatan terlibat dengan usaha kami untuk mengembalikan konsultasi politik, dan menyetujui kerangka negosiasi politik, dan tindakan yang membangun rasa saling percaya," ujar dia.
Dia mengatakan tindakan membangun rasa saling percaya itu termasuk "meningkatkan kapasitas Bank Sentral Yaman, pertukaran tahanan dan pembukaan kembali bandara Sanaa."
Pada Rabu, Menteri Pertahanan AS James Mattis meminta adanya gencatan senjata di Yaman dan dimulainya dialog perdamaian dalam waktu 30 hari mendatang.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga merilis pernyataan yang berkata ini adalah "waktu untuk mengakhiri konflik, menggantikan konflik dengan kompromi, dan mengizinkan masyarakat Yaman menyembuhkan diri melalui perdamaian dan rekonsiliasi".
Yaman telah terkoyak perang sejak 2014, ketika pemberontah Syiah Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk Ibu Kota Sanaa.
Konflik semakin meningkat pada 2015 ketika Arab Saudi dan sekutu-sekutu Sunni-Arab mereka meluncurkan serangan udara besar-besaran ke Yaman, dengan tujuan merebut kembali daerah yang dikuasai Houthi.