Rhany Chairunissa Rufinaldo
09 Agustus 2019•Update: 09 Agustus 2019
Baris Seckin
ROMA
Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini pada Kamis menyerukan pemilu lebih awal, mengkritik ketidakmampuan pemerintah koalisi untuk menyepakati masalah kebijakan.
Ketegangan dalam koalisi partai sayap kanan Liga pimpinan Salvini dan Gerakan 5-Bintang populis (M5S) meningkat akibat proyek infrastruktur yang melibatkan hubungan kereta api berkecepatan tinggi dengan Prancis.
M5S mengajukan mosi untuk menghentikan proyek itu, tetapi ditolak oleh Senat dengan mayoritas suara dari anggota parlemen partai Liga.
Kedua pihak saling menyalahkan atas perpecahan yang terjadi di dalam koalisi, yang mendorong Salvini menyerukan pemilu lebih awal.
Dia kemudian bertemu dengan Perdana Menteri Giuseppe Conte selama lebih dari satu jam.
Dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan itu, Salvini mengatakan dia memberi tahu Conte bahwa pemerintah telah kehilangan mayoritas di parlemen.
"Mari kita kembalikan kepada para pemilih," kata Salvini.
Pemimpin M5S dan Menteri Perburuhan dan Industri Luigi Di Maio mengatakan partainya siap untuk pemilihan umum dini.
Namun, Di Maio mengatakan parlemen pertama-tama harus menyetujui reformasi untuk mengurangi jumlah anggota parlemen dalam pemungutan suara.
M5S dan partai Liga membentuk pemerintahan koalisi pada 1 Juni 2018 di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Giuseppe Conte.