Maria Elisa Hospita
08 Maret 2018•Update: 09 Maret 2018
Nour Abu Aisha
GAZA, Palestina
Faksi politik Palestina pada Rabu mengumumkan rencana untuk menggelar demonstrasi massal di sepanjang perbatasannya dengan Israel.
Aksi tersebut dilakukan untuk memprotes blokade Israel-Mesir yang telah berlangsung selama satu dekade dan keputusan Amerika Serikat (AS) yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
"Kami telah menyusun sebuah komite nasional yang bertugas untuk menghentikan pengepungan di Gaza dan membatalkan keputusan Presiden AS Donald Trump mengenai Yerusalem," jelas Khaled al-Butsh, pimpinan kelompok Jihad Islam dalam sebuah konferensi pers di Gaza.
Persiapan untuk demonstrasi tersebut di antaranya mencakup pembangunan kamp-kamp besar di sepanjang perbatasan untuk menampung demonstran.
Al-Butsh mengatakan, aksi protes tersebut akan memaksa pembatalan keputusan Trump yang disebut sebagai 'Perjanjian Abad Ini' (Deal of the Century) untuk menghapus hak-hak orang Palestina untuk kembali ke tanah air leluhur mereka.
Istilah 'Perjanjian Abad Ini' mengacu pada rencana administrasi Trump yang bertujuan untuk mencapai solusi akhir konflik Timur Tengah.
Perjanjian tersebut akan memungkinkan Israel untuk mencaplok seluruh wilayah Yerusalem, termasuk area permukiman di Tepi Barat.
Menurut al-Butsh, komite nasional yang baru dibentuk mencakup perwakilan dari beberapa faksi politik Palestina terkemuka - termasuk Fatah, Hamas dan Jihad Islam - bersama dengan LSM hak asasi manusia, lembaga sosial, kelompok pemuda dan suku Arab.
Demonstrasi juga akan diadakan secara simultan di Tepi Barat yang diduduki Israel, dengan berkoordinasi dengan warga Palestina di Suriah dan Lebanon.
Pasukan Israel yang ditempatkan di dekat perbatasan melarang orang-orang Palestina mendekat ke area tersebut, dengan menembaki atau menangkap siapapun yang melewati perbatasan.
Sejak Desember lalu, warga Palestina terus-menerus menggelar demonstrasi di dekat perbatasan Gaza-Israel untuk memprotes keputusan sepihak Trump.