Metin Mutanoglu, Faruk Tokat, Adham Kako, dan Ali Murat Alhas
ANKARA
Kepala badan pertahanan sipil White Helmets mengatakan organisasinya telah dikenakan tuduhan palsu karena perannya sebagai saksi atas pembantaian yang sedang berlangsung di Suriah yang dilanda perang.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Raed Salah mengatakan bahwa White Helmets menyambut dukungan keuangan dari negara atau organisasi manapun asalkan dana tersebut tidak didorong secara politik.
"Pada akhir 2012, beberapa daerah di Suriah mulai jatuh dari kendali rezim [Assad]. Ketika pasukan rezim mulai melumpuhkan permukiman sipil dan melakukan serangan, ada kebutuhan bagi kelompok untuk menyelamatkan warga sipil dari serangan-serangan ini," katanya.
Menurut Salah, nama agen pertahanan sipil ini diambil dari warna helm yang dipakai oleh anggotanya selama operasi penyelamatan.
Dia mengatakan anggota White Helmets telah memiliki 4.300 relawan pada akhir tahun 2017. Namun demikian, mereka hanya dapat beroperasi di daerah-daerah tertentu di mana mereka diizinkan.
"Karena rezim menunjuk kami sebagai kelompok teror, kami tidak dapat beroperasi di wilayah yang berada di bawah kendalinya. Kami telah berulang kali diancam [oleh rezim]," katanya.
"Selain itu, kami juga tidak dapat beroperasi di wilayah yang dikuasai YPG/PKK," kata Saleh sambil menambahkan bahwa ada relawan White Helmets yang ditangkap oleh YPG/PKK pada tahun 2015.
"Mereka menyita ambulans kami dan peralatan penyelamatan di Afrin," katanya. "Karena alasan yang sama, kami tidak dapat beroperasi di daerah yang dipegang Daesh."
Salah mengatakan, badan pertahanan sipil hanya dapat beroperasi di daerah-daerah yang dikuasai oposisi di Suriah utara, zona Eufrat Perisai dan zona Operasi Cabang Minyak.
"Selain operasi penyelamatan, White Helmets juga melakukan intervensi untuk memadamkan kebakaran, memecahkan masalah air dan listrik dan membantu membersihkan puing-puing," katanya.
Didirikan pada tahun 2013, White Helmets dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian 2016. Pada 2013, anggota badan pertahanan sipil ini dilatih oleh Asosiasi Penyelamat dan Penelusuran Turki, AKUT.
Pemasok dana
Salah mengatakan, White Helmets menerima dukungan keuangan dari negara atau organisasi manapun dengan syarat bahwa dana tersebut tidak didorong oleh politik.
"Kami menyambut baik bantuan dan dukungan dari semua orang yang ingin mendukung rakyat Suriah," katanya. "Kami tidak memiliki keberatan. Satu-satunya syarat kami adalah tidak ada agenda politik atau militer yang dibebankan pada kami."
Salah mengatakan organisasi tersebut didukung oleh negara-negara seperti Qatar, Inggris, Amerika Serikat, Belanda, Denmark dan Jerman.
"Kami akan menandatangani perjanjian dengan Prancis," katanya. "Bulan Sabit Merah Turki dan IHH (Yayasan Bantuan Kemanusiaan) juga mendukung kami."
Kepala White Helmets itu juga mengatakan badan pertahanan sipilnya tidak pernah mendapat dukungan keuangan dari Israel.
"Kami tidak akan pernah menerima dukungan keuangan dari Israel karena kami melihatnya sebagai negara pendudukan," katanya. Saleh pun menyangkal bahwa para sukarelawannya telah dievakuasi dari Suriah barat melalui Israel di tengah operasi militer oleh pasukan rezim.
“Evakuasi sukarelawan kami tidak dilakukan melalui Israel. Para relawan pergi ke Dataran Tinggi Golan yang diduduki sebelum pindah ke Yordania. Dari sana, mereka pergi ke negara lain,” kata dia.

Tuduhan
Salah menepis tudingan bahwa White Helmets sedang melakukan serangan kimia di Suriah dan menumpuk kesalahan pada rezim Suriah.
"Pihak yang melakukan gas klor dan serangan kimia di Suriah sangat jelas," katanya.
“Siapa yang punya barel gas klorin? Rezim yang melakukannya. Siapa yang menggunakan gas Sarin? Rezim itu," kata dia.
“Rezim Suriah adalah satu-satunya yang memiliki gas Sarin. Satu-satunya pihak yang mampu menggunakan dan membawa serangan seperti itu adalah rezim." imbuhnya.
Salah mengatakan bahwa tuduhan seperti itu ditujukan kepada kelompoknya karena White Helmets adalah saksi pertama pembantaian yang terus berlangsung dan pelanggaran hak asasi manusia di negara yang dilanda perang.
"Rusia melakukan yang terbaik untuk menutupi perlakuan rezim," katanya.
Pencapaian
Dalam wawancara, Salah juga mengungkapkan para sukarelawannya berulang kali telah ditargetkan oleh pasukan rezim saat menyelamatkan warga sipil.
"Kami telah ditargetkan oleh kedua pesawat tempur Rezim dan pesawat tempur Rusia untuk beberapa kali," katanya.
Dia mengatakan beberapa pusat perkumpulan White Helmets telah diserang oleh pasukan rezim dan sekutu selama beberapa kali.
"Sebanyak 255 relawan telah terbunuh sejauh ini," katanya.
Salah mengatakan sebuah survei yang dilakukan pada tahun lalu menunjukkan bahwa 85 persen responden mengatakan bahwa mereka akan mencari bantuan dari White Helmets jika diperlukan.
"Ini merupakan keberhasilan besar bagi kami," katanya. "Kesuksesan terbesar kami, bagaimanapun, adalah kami telah menyelamatkan 115.000 jiwa warga sipil."
"Kami juga menanam harapan ke dalam hati dan pikiran sebuah bangsa yang akan kehilangan harapannya," katanya.
Suriah diketahui telah terkunci dalam perang saudara yang menghancurkan sejak Maret 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menindak keras protes pro-demokrasi dengan aksi ganas yang tidak terduga.