Muhammad Abdullah Azzam
11 Maret 2020•Update: 11 Maret 2020
Salih Baran
EDIRNE, Turki
Pasukan Yunani membuat parit di sepanjang perbatasan negaranya sebagai upaya untuk menghalangi para pencari suaka untuk menyeberang ke Eropa.
Pencari suaka telah menunggu di perbatasan Turki-Yunani selama 12 hari untuk memasuki negara-negara Eropa.
Tentara Yunani kerap melakukan intervensi terhadap pencari suaka dengan melepaskan gas air mata, meriam air, serta menembakkan peluru plastik dan tajam yang menyebabkan kematian dan cedera.
Pasukan perbatasan Yunani masih terus menggali parit yang ditutupi karung pasir dan tak jauh dari kabel kawat yang dipasang sepanjang perbatasannnya.
Yunani berusaha mencegah para pencari suaka menyeberangi perbatasan mereka dengan menempatkan pasukan bersenapan di perbatasan.
Turki telah menjadi titik transit utama bagi ratusan ribu migran gelap yang ingin menyeberang ke Eropa untuk memulai kehidupan baru, terutama mereka yang melarikan diri dari perang dan penganiayaan.
Akhir Februari, Turki mengumumkan tidak akan lagi menghentikan pencari suaka yang hendak mencapai Eropa.
Namun, penyeberangan menggunakan perahu tidak akan diizinkan karena terlalu berbahaya.
Keputusan itu diambil setelah 34 tentara Turki gugur di Idlib, Suriah.
Jumlah pencari suaka yang meninggalkan Turki sejak gerbang perbatasan di Provinsi Edirne dibuka mencapai lebih dari 142.000 per 6 Maret.
Turki, yang telah menampung hampir empat juta warga Suriah, lebih dari negara lain mana pun di dunia, mengatakan pihaknya tidak mampu lagi menampung gelombang pengungsi baru.