22 Juli 2017•Update: 23 Juli 2017
Etem Geylan dan Nurettin Coskun, ditulis oleh Fatma Bulbul
ISTANBUL
Presiden Turki mengatakan pada Jumat bahwa Turki tidak pernah memandang Afrika sebagai "benua perawan" dengan sumber daya melimpah untuk dieksploitasi.
Saat menghadiri acara Makan Malam Kongres Internasional mengenai Kesehatan di Afrika yang bertempat di Istanbul, Recep Tayyip Erdogan berkata bahwa Turki ingin mengembangkan aliansi bisnis jangka panjang di benua tersebut dengan pendekatan “yang saling menguntungkan” berdasarkan “rasa saling menghormati dan kesetaraan.”
Presiden mengatakan bahwa kurun waktu 12 tahun terakhir ini telah membuktikan ketertarikan Turki terhadap benua Afrika tidak berlalu begitu saja, dan ia menambahkan: “Perdagangan kami dengan seluruh Afrika tahun 2005 bernilai sekitar $7 milyar, tapi tahun 2016 angka ini mencapai $17 milyar.”
“Pertemuan kemitraan Turki-Afrika, yang pertama kali diadakan di Istanbul pada 2008, lalu di Malabo yang merupakan ibukota Guinea Khatulistiwa pada 2014, menunjukkan keseriusan Turki dan betapa pentingnya hubungan dengan benua tersebut bagi Turki.”
Terkait masa depan Afrika, ia mengatakan meski ada masalah yang sedang dihadapi benua itu saat ini, Afrika akan meninggalkan jejak di abad 21.
Pada 2005, pihak Turki yang ditugaskan untuk menangani hubungan dengan Afrika berhasil mendapatkan momentum baru ketika Erdogan, yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri, mendeklarasikan tahun 2005 sebagai Tahun Afrika, dan Turki diberikan status pengawas oleh Uni Afrika