İqbal Musyaffa
25 September 2019•Update: 26 September 2019
JAKARTA
Asian Development Bank (ADB) mengungkapkan perekonomian Asia memiliki prospek melambat, meskipun masih berkembang dengan cukup kuat.
Country Economist ADB Emma Allen mengatakan risiko terhadap perekonomian di kawasan terus naik seiring dengan melemahnya sektor perdagangan dan investasi.
Laporan ADB memproyeksi pertumbuhan ekonomi 45 negara yang menjadi bagian dari kawasan Asia yang sedang berkembang sebesar 5,4 persen atau melambat dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 5,7 persen pada tahun ini.
Sementara untuk tahun 2020, ADB memproyeksikan ekonomi di kawasan Asia tumbuh 5,5 persen. Angka ini juga lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 5,6 persen.
“Perkiraan baru yang Iebih rendah tersebut mencerminkan turunnya prospek perdagangan internasional, sebagian karena memburuknya ketegangan perdagangan antara China dengan Amerika Serikat (AS),” jelas Emma dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Menurut Emma, melambatnya proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi di sejumlah perekonomian negara maju dan besar di kawasan Asia yang sedang berkembang, termasuk China, India, Korea Selatan, dan Thailand.
Dia menguraikan dengan mengecualikan beberapa perekonomian yang baru terindustrialisasi seperti Hong Kong, China, Korea Selatan, Singapura, dan China Taipei, kawasan Asia yang sedang berkembang diperkirakan akan tumbuh 6 persen pada tahun ini dan tahun depan.
Konflik perdagangan antara China dan AS sangat mungkin akan berlanjut hingga 2020, sedangkan sejumlah perekonomian utama di dunia diperkirakan akan mengalami kesulitan Iebih besar daripada yang diantisipasi saat ini.
“Di Asia, melemahnya momentum perdagangan dan menurunnya investasi menjadi perhatian utama, sehingga para pembuat kebijakan perlu memantau isu-isu dengan seksama,” ungkap Emma.
Emma mengatakan utang publik maupun swasta di kawasan Asia yang sedang berkembang telah meningkat sejak krisis keuangan global tahun 2008-2009. Rasio utang terhadap PDB naik Iebih dari 60 persen dalam dua dekade terakhir.
Laporan ini mencatat, kenaikan utang yang cukup pesat tersebut dapat membahayakan kestabilan keuangan dan mendorong para pembuat kebijakan agar tetap waspada.
Inflasi juga meningkat terutama karena naiknya harga pangan di kawasan ini, termasuk di China yang mengalami kenaikan harga daging akibat wabah penyakit flu babi Afrika.
Asian Development Outlook (ADO) Update memperkirakan inflasi umum (headline inflation) regional sebesar 2,7 persen pada tahun 2019 maupun 2020.