İqbal Musyaffa
09 Agustus 2019•Update: 12 Agustus 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) mengumumkan defisit transaksi berjalan (CAD) pada triwulan II mencapai USD8,4 miliar atau naik 3 persen dari PDB.
Posisi CAD ini meningkat dari triwulan I lalu yang berjumlah USD7 miliar atau 2,6 persen dari PDB.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan peningkatan defisit ini dipengaruhi perilaku musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri, serta dampak pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat dan turunnya harga komoditas.
"Pada triwulan II 2019, defisit neraca pendapatan primer membesar didorong faktor musiman peningkatan kebutuhan repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri," jelas Onny dalam keterangan resmi, Jumat.
Selain itu, kinerja ekspor nonmigas juga menurun sejalan dampak perekonomian dunia yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun.
Ekspor nonmigas tercatat USD37,2 miliar, turun dibandingkan dengan capaian pada triwulan sebelumnya sebesar USD38,2 miliar.
Defisit neraca perdagangan migas juga meningkat menjadi USD3,2 miliar dari USD2,2 miliar pada triwulan sebelumnya, seiring dengan kenaikan rerata harga minyak global dan peningkatan permintaan musiman impor migas terkait hari raya Idul fitri dan libur sekolah.
Meski begitu, Onny mengatakan secara umum neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II masih kuat dan menunjukkan ketahanan eksternal ekonomi tetap terjaga di tengah kondisi global yang kurang kondusif.
Onny menjelaskan neraca pembayaran Indonesia triwulan II 2019 tetap baik ditopang surplus neraca transaksi modal dan finansial yang berlanjut sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Surplus transaksi modal dan finansial (TMF) pada triwulan II 2019 tercatat USD7,1 miliar ditopang aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio.
“Aliran masuk investasi langsung tercatat USD7,0 miliar, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD6,1 miliar,” jelas Onny.
Dia mengatakan investasi portofolio juga tercatat masih tinggi sebesar USD4,5 miliar sementara investasi lainnya mencatat defisit dipengaruhi faktor musiman meningkatnya pembayaran pinjaman luar negeri pemerintah dan swasta yang jatuh tempo.
“Dengan perkembangan tersebut, surplus TMF sampai dengan semester I 2019 tercatat USD17,0 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada semester I tahun sebelumnya sebesar USD5,3 miliar,” urai Onny.
Dengan perkembangan tersebut, Onny mengatakan meskipun pada triwulan II 2019 neraca pembayara Indonesia mengalami defisit USD2,0 miliar, namun sampai dengan semester I 2019 NPI tetap mencatat surplus sebesar USD0,4 miliar.
Perkembangan ini ditopang surplus neraca transaksi modal dan finansial yang tinggi, serta defisit neraca transaksi berjalan yang terkendali dalam batas aman yaitu 2,8 persen dari PDB.
Sementara itu, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2019 tercatat sebesar USD123,8 miliar, setara dengan pembiayaan 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.
‘Ke depan, NPI diperkirakan tetap baik sehingga dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal,” tegas Onny.
Menurut dia, prospek NPI tersebut didukung defisit transaksi berjalan 2019 yang diperkirakan lebih rendah dari tahun 2018, yaitu dalam kisaran 2,5-3,0 persen PDB.
“Prospek aliran masuk modal asing juga tetap besar didorong persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi Indonesia yang tetap terjaga,” tambah dia.
Onny melanjutkan bahwa Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk berupaya mendorong peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA).