Iqbal Musyaffa
14 September 2020•Update: 16 September 2020
JAKARTA
Pengamat ekonomi mengatakan kebijakan Pemerintah Jakarta menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tetap diperlukan meski harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan PSBB dipastikan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi Jakarta.
Secara nasional juga akan terpengaruh karena ibukota menyumbang 17 persen pertumbuhan nasional.
“Kebijakan PSBB bisa memberikan kepastian pemulihan ekonomi yang lebih konsisten dan bisa diprediksi,” jelas Tauhid kepada Anadolu Agency, Senin.
Menurut dia jika PSBB tidak diterapkan, maka kasus Covid-19 akan semakin tinggi sehingga membuat pemulihan ekonomi akan menjadi lebih lama.
Menurut dia tidak mudah bagi masyarakat melakukan aktivitas ekonomi di tengah ancaman kesehatan.
“Krisis kesehatan harus diselesaikan lebih dulu agar orang aman beraktivitas,” tambah dia.
Akan tetapi, kata Tauhid, pemerintah Jakarta harus mempersiapkan bantuan masyarakat yang terdampak kebijakan PSBB, seperti bantuan sosial dan juga bantuan bagi dunia usaha agar keseimbangan antara ekonomi dan kesehatan bisa terjaga.
“Kalau PSBB tanpa bansos, jadi buah simalakama. Sehingga perlu ada solusi jaminan terhadap beberapa komponen biaya kehidupan masyarakat agar PSBB bisa berhasil,” imbuh Tauhid.
Menurut dia, kontraksi ekonomi pada kuartal ketiga tidak bisa dihindarkan.
Karena itu PSBB kali ini harus mendapat dukungan dengan semua pihak agar bisa menekan penyebaran Covid-19, sehingga pada kuartal keempat proses pemulihan ekonomi bisa lebih cepat.
“Apabila PSBB tidak mulus dan kasus semakin tinggi, maka proses recovery butuh waktu lebih lama,” tambah dia.
Menurut dia, urgensi PSBB kali ini adalah memberikan kepastian proses pemulihan ekonomi.
Apabila kasus penyebaran Covid-19 masih tinggi maka aktivitas ekonomi masyarakat seperti belanja, konsumsi, dan sektor usaha tidak akan maksimal untuk memulihkan ekonomi.
“Bereskan dulu masalah kesehatan untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi,” lanjut Tauhid.
Ekonom Indef lainnya Bhima Yudhistira memberikan pendapat senada.
Menurut dia PSBB kali ini pasti akan berdampak lebih negatif pada perekonomian bila dibandingkan dengan sebelumnya.
Dia mengatakan banyak pekerja di Jakarta berasal dari daerah lain, sehingga pembatasan ini akan membuat pertumbuhan konsumsi rumah tangga terkontraksi.
“Yang lebih mendesak adalah upaya memaksimalkan PSBB di Jakarta dengan disiplin tanpa pandang bulu,” ungkap Bhima.
Jika penularan penyakit bisa ditekan, maka masyarakat akan yakin untuk berbelanja kembali.
“Momentum Natal dan Tahun Baru di akhir kuartal keempat jangan sampai terlewat untuk pemulihan. Syaratnya PSBB kali ini berhasil menekan penularan,” ujar dia.