İqbal Musyaffa
25 November 2018•Update: 26 November 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pertumbuhan ekonomi Malaysia dapat meningkat setelah 2020 jika harga komoditas naik karena pemulihan dalam pertumbuhan ekonomi global.
Analis Ekonom Asia Pasifik Moody Steven G. Cochrane mengatakan pertumbuhan ekonomi Malaysia kemungkinan akan melambat dalam dua tahun mendatang hingga 2020 karena prospek ekonomi global yang lemah dapat membebani harga komoditas.
“Malaysia, sebagai ekonomi terbuka, rentan terhadap tren global. Setiap wilayah di dunia dapat melihat pertumbuhan yang lebih lambat pada 2019 dan 2020,” kata dia sebagaimana dilansir Bernama.
Cochrane memproyeksikan bahwa pertumbuhan produk domestik bruto (GDP) Malaysia yang sebenarnya dapat melambat dari 5,9 persen pada 2017 menjadi 4,8 persen pada 2018, kemudian 4,4 persen pada 2019, dan 3,6 persen pada 2020.
“Harga komoditas yang lebih rendah karena pertumbuhan ekonomi global yang lebih lambat akan merugikan pasar negara berkembang dan Malaysia,” imbuh dia.
Dia menambahkan tidak melihat akan terjadi percepatan harga komoditas sampai ekonomi global meningkat.
Harga minyak sawit mentah (CPO) telah mengalami pelemahan signifikan sejak awal tahun ini, dengan harga berjangka CPO sekitar RM2.000 per ton (USD476), karena tingkat stok tinggi dan permintaan lemah.
Dia mengatakan stimulus fiskal AS, yang telah mendukung ekonomi AS, diperkirakan akan berakhir pada 2020 dan ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi AS dan membebani ekonomi global dan pasar komoditas.
"Jika kita bisa mencapai 2020 tanpa resesi di AS dan Eropa, maka bisa ada rebound dalam pertumbuhan global pada 2021 dan 2022," kata Cochrane.
Cochrane mengatakan perang perdagangan AS-China juga bisa berdampak pada perdagangan dan ekonomi global, dan dalam skenario terburuk, itu bisa mengganggu rantai pasokan dan menyebabkan resesi di AS dan melukai negara lain.
“Banyak bergantung pada Presiden AS Donald Trump dan pertemuan Presiden Xi Jin Ping pada KTT Pemimpin G20 di Buenos Aires pada akhir bulan ini,” tambah dia.
Cochrane menambahkan semua mata akan mencari sinyal yang berasal dari Trump dan Xi jika mungkin ada penyelesaian pada perang dagang dan jika pemerintahan Trump mungkin akan menaikkan tarif 25 persen impor pada tahun depan.
Jika kenaikan tarif diperluas yang mencakup semua perdagangan antara China dan AS, Cochrane menilai akan menambah gesekan pada ekonomi Malaysia dan global.
“Sebagai pengekspor minyak bersih, jatuhnya harga minyak berarti volume dolar ekspor akan berkurang bagi Malaysia,” tambah dia.