İqbal Musyaffa
21 Maret 2018•Update: 22 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia terus berusaha untuk bisa mengurangi defisit perdagangannya dengan Tiongkok.
Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Asia Kementerian Koordinator Perekonomian Bobby Chriss Siagian dalam forum bisnis pengusaha Indonesia-Tiongkok di Jakarta, Rabu, mengatakan meski perdagangan Indonesia masih defisit, namun secara bertahap mulai membaik.
Pada tahun 2017 total perdagangan Indonesia-Tiongkok sebesar USD58,8 miliar dengan defisit dagang yang dialami Indonesia sebesar USD12,7 miliar. Defisit tersebut mengecil dari tahun 2016 dengan nilai USD14,01 miliar dari total perdagangan USD47,6 miliar.
Untuk terus mengurangi defisit, pemerintah sudah mengusulkan dibentuknya working group on trade antar kedua negara. “Kita berharap Tiongkok bisa merespon usulan kita,” ungkap dia.
Bobby mengatakan, working group on trade ditujukan untuk membahas defisit neraca perdagangan dan upaya meningkatkan ekspor kelapa sawit dan turunannya termasuk biodiesel.
“Selain itu juga untuk membahas kerja sama perlatihan di bidang promosi perdagangan, penyesuaian standar untuk memasukkan produk buah dan sayur Indonesia ke Tiongkok, dan perluasan akses pasar produk prioritas Indonesia di Tiongkok,” urai Bobby.
Dia juga mengatakan, produk utama ekspor Indonesia saat ini masih didominasi produk pertambangan dan kelapa sawit. “Kami juga gembira produk sarang burung walet dan manggis Indonesia juga bisa diterima di Tiongkok,” tambah dia.
Tiongkok tertarik produk furnitur jati
Pada kesempatan yang sama, Atas Kedubes Tiongkok untuk Indonesia Bidang Ekonomi dan Komersial Wang Li Ping mengatakan, bukan hanya sarang burung walet dan manggis asal Indonesia saja yang diminati pasar Tiongkok, tapi juga komoditas lain seperti kopi luwak dan produk furnitur kayu jati.
“Furnitur kayu jati Indonesia juga sangat bagus. Saya juga menggunakannya di kantor saya. Kami juga mengundang produsen furnitur Indonesia untuk menjual produknya di Tiongkok,” imbuh Wang.
Untuk mendorong peningkatan perdagangan, dia menyarankan pemerintah dan pengusaha Indonesia untuk memanfaatkan setiap ajang promosi dagang yang diadakan di seluruh dunia, termasuk di Tiongkok.
Pada November mendatang Tiongkok akan mengadakan forum ekspor impor dan dia mengundang Indonesia untuk ikut serta.
“Indonesia bisa mempromosikan barang dan jasanya kepada pasar Tiongkok dan global karena aka nada 14 ribu pengunjung global pada ajang itu,” tambah dia.
Wang mengungkapkan, masih banyak hal yang perlu dilakukan bersama untuk meningkatkan ekspor Indonesia karena perdagangan Indonesia dan Tiongkok masih di bawah perdagangan Tiongkok dengan Malaysia dan Thailand.
“Dengan peningkatan kapasitas dan kualitas yang ada di Indonesia kami yakin perdagangan pada tahun ini bisa meningkat,” tegas Wang.