İqbal Musyaffa
25 Februari 2019•Update: 25 Februari 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Industri manufaktur di wilayah timur Indonesia tumbuh signifikan, kata kementerian perindustrian.
Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pertumbuhan industri di timur Indonesia tidak terlepas dari langkah strategis pemerintah untuk mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi.
“Untuk itu, kami mengakselerasi pembangunan kawasan industri di luar Jawa, yang hingga saat ini progres dan kontribusinya mengalami peningkatan signifikan,” kata Menteri Airlangga dalam keterangan pers, Senin.
Menteri Airlangga menjelaskan pengembangan kawasan industri baru di luar Jawa diarahkan pada sektor manufaktur berbasis sumber daya alam sebagai penerapan kebijakan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku di dalam negeri.
“Kami memproyeksi akan terjadi peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas di luar Jawa sebesar 60 persen dibanding di Jawa,” jelas dia.
Menteri Airlangga menjelaskan sejumlah kawasan industri telah beroperasi di timur Indonesia untuk periode 2015-2017, antara lain kawasan industri Morowali dan Palu di Sulawesi Tengah. Selanjutnya adalah kawasan industri Bantaeng di Sulawesi Selatan dan kawasan industri Konawe di Sulawesi Tenggara.
“Untuk kawasan industri di Morowali, Bantaeng, dan Konawe, kami fokuskan pada industri berbasis pengolahan nikel. Sedangkan, di Palu sebagai klaster industri yang berbasis olahan rotan dan agro,” ujar Airlangga.
Dia menambahkan bahwa semua kawasan industri tersebut masuk dalam proyek strategis nasional (PSN).
Kementerian Perindustrian mencatat di kawasan industri Palu sudah ada 14 tenant, kemudian di kawasan industri Bantaeng terdapat 11 tenant, kawasan industri Morowali telah ditempati 10 tenant, dan kawasan industri Konawe sekitar 6 tenant.
Menurut Menteri Airlangga, pertumbuhan industri di timur Indonesia terlihat dari keberhasilan hilirisasi nickel ore menjadi stainless steel di Morowali.
“Kalau nickel ore dijual sekitar USD40-60, sedangkan ketika menjadi stainless steel harganya di atas USD2000,” urai dia.
Menurut Menteri Airlangga, Indonesia juga sudah mampu ekspor dari Morowali senilai USD4 miliar untuk produk hot rolled coil maupun cold rolled coil ke Amerka Serikat dan China.
Dia menambahkan investasi di kawasan industri Morowali juga terus meningkat dari USD3,4 miliar pada 2017 menjadi USD5 miliar pada tahun 2018 dengan jumlah penyerapan tenaga kerja mencapai 30 ribu orang, dengan komposisi 27 ribu tenaga kerja lokal dan 3 ribu tenaga kerja China.
Menteri Airlangga mengatakan terdapat kawasan industri yang sedang dalam tahap konstruksi yakni di Bitung, Sulawesi Utara yang juga merupakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2019.
“KEK Bitung akan difokuskan untuk pengembangan industri pengolahan perikanan dan kelapa beserta produk turunannya yang diminati pasar domestik dan ekspor,” urai dia.
Kemenperin juga mendorong percepatan pembangunan kawasan industri Teluk Bintuni di Papua Barat melalui skema kerja sama Permerintah dan Badan Usaha (KPBU).
“Kawasan industri Teluk Bintuni akan difokuskan untuk pengembangan industri petrokimia. Apalagi juga menjadi proyek strategis nasional,” jelas Menteri Airlangga.
Menteri Airlangga menambahkan wilayah Papua berpotensi dalam pengembangan industri turunan dari komoditas tambang.