Muhammad Nazarudin Latief
21 Mei 2018•Update: 22 Mei 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah menargetkan pada 2025, sebanyak 20 persen kendaraan yang diproduksi di Indonesia adalah kendaraan emisi karbon rendah (Low Carbon Emission Vehicle/LCEV) yang ramah lingkungan, termasuk di dalamnya adalah kendaraan listrik.
Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Harjanto, mengatakan persentase tersebut bisa lebih besar jika didukung oleh tren penggunaan produk ramah lingkungan penduduk dunia.
Menurut dia, pemerintah tengah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mengakselerasi perkembangan industri otomotif yang ramah lingkungan itu.
"Industri ini perlu ada pentahapan baik penyiapan regulasi atau payung hukum, infrastruktur pendukung, dan teknologi," ujar Harjanto dalam siaran persnya, Senin.
Pemerintah juga berupaya menyinkronkan kebijakan pengembangan kendaraan bermotor nasional sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0.
“Kami memacu industri otomotif agar mampu menjadi sektor unggulan untuk ekspor ICE [internal combustion engine/mesin pembakaran dalam] dan EV [electric vehicle/kendaraan listrik],” ujar dia.
Selain soal produksi, infrastruktur lain juga menjadi perhatian, seperti charging station. Sehingga saat masyarakat menggunakan teknologi ini bisa mendapatkan kemudahan dan kenyamanan.
Pemerintah, menurut Harjanto, menyiapkan kemampuan industri komponen dalam negeri, seperti memproduksi baterai untuk kendaraan listrik.
Pemerintah juga menyiapkan proyek percontohan battery sharing untuk kendaraan bermotor listrik roda dua di beberapa kota, seperti Bandung, Denpasar dan Yogyakarta
"Penggunaan baterai bisa ditukar, seperti penggunaan tabung gas LPG pada kompor,” paparnya.
Kementerian Perindustrian, menurut Harjanto, sudah mengusulkan pemberian insentif terhadap pengembangan program LCEV, yang di dalamnya termasuk kendaraan listrik.
Menurut dia, kemampuan industri otomotif di Indonesia terus mengalami pertumbuhan cukup pesat sehingga memberikan kontribusi signifikan pada perekonomian nasional.
Ekspor dalam bentuk komponen kendaraan naik hingga 13 kali lipat, dari 6,2 juta pieces 2016 menjadi 81 juta pieces pada 2017.
Peningkatan juga terjadi pada angka produksi kendaraan bermotor roda empat, dari 1,177 juta unit 2016 menjadi 1,216 juta unit 2017.
Jumlah tersebut diperkuat dengan peningkatan ekspor kendaraan dalam keadaan utuh (completely build up/CBU) sebanyak 231 ribu unit 2017 dibanding 2016 sekitar 194 ribu unit.