Muhammad Nazarudin Latief
19 Maret 2018•Update: 19 Maret 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah mengatakan industri kosmetik Indonesia bertambah 153 unit pada 2017, sehingga jumlah total perusahaan yang bergerak pada bidang ini mencapai 760 perusahaan.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan 95 persen dari industri tersebut adalah sektor industri kecil dan menengah (IKM) dan sisanya industri skala besar.
“Pertumbuhan Industri kosmetik nasional cukup tinggi hingga lebih dari 20 persen pada tahun lalu,” ujar Menteri Airlangga, dalam siaran persnya Senin.
Menurut Menteri Airlangga, Indonesia sudah mampu mengekspor produk kosmetiknya ke negara-negara ASEAN, Afrika dan Timur Tengah. Pada 2017, nilai ekspor produk kosmetik nasional mencapai USD517 juta, naik dibandingkan 2016 yang hanya sebesar USD 470,3 juta.
“Permintaan besar dari pasar domestik dan ekspor karena tren masyarakat yang mulai memperhatikan produk perawatan tubuh sebagai kebutuhan utama,” ujar dia.
Pertumbuhan industri ini, menurut Menteri Airlangga, hingga dua digit atau empat kali lipat dari pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, pemerintah menetapkan industri kosmetik sebagai sektor andalan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) periode 2015-2035.
Potensi lainnya adalah tren masyarakat untuk menggunakan produk alami sehingga membuka peluang munculnya produk kosmetik berbahan alami seperti produk-produk spa yang berasal dari Bali.
Keunggulan Indonesia, menurut Menteri Airlangga, adalah aspek bahan baku, karena memiliki keanekaragaman hayati baik yang berasal dari darat maupun laut.
Beberapa yang perlu dikembangkan, sebut dia, seperti ganggang laut dan marine collagen yang potensial untuk dikembangkan di pasar lokal dan global.
“Perlu proses ekstraksi untuk bahan baku. Misalnya lidah buaya bisa menghasilkan kolagen dan ada essential oil, yang saat ini masih impor,” ujar Menteri Airlangga.
Kunci utama pengembangan industri ini, kata Menteri Airlangga adalah sinergi penelitian dan pengembangan, karena itu perlu bekerja sama dengan lembaga riset atau perguruan tinggi.
Indonesia kini menempati urutan ke-4 sebagai produsen jamu atau herbal di dunia setelah Tiongkok, India dan Korea.
Terdapat 30 ribu jenis tanaman herbal yang tumbuh di dalam negeri, dan perlu dimanfaatkan oleh industri nasional.
“Selain mempromosikan produk unggulan komestik kita, juga dapat mengenalkan Indonesia sebagai penghasil obat tradisional,” imbuhnya.
Negara-negara ASEAN, menurut Airlangga, mulai fokus mengembangkan potensi wellness industry, yang meliputi industri farmasi, herbal, dan kosmetik.