İqbal Musyaffa
01 Februari 2018•Update: 01 Februari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri manufaktur mikro dan kecil (IMK) tahun 2017 melonjak sebesar 4,74 persen dibandingkan tahun 2016.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan jika data berdasarkan per kuartal, pada kuartal ke-4 2017, IMK menaik sebesar 4,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut dia, IMK meningkat akibat peningkatan kinerja pada 5 sub IMK, seperti industri komputer, barang elektronik dan optik yang mengalami kenaikan sebesar 35,5 persen. Kemudian Industri bahan kimia dan barang dari kimia meningkat 18,66 persen.
Selain itu, kata Suhariyanto, industri kertas dan barang dari kertas tercatat meningkat sebesar 17,91 persen, industri logam dasar meningkat 11,67 persen dan industri percetakan dan repoduksi media rekaman naik sebesar 11,43 persen.
"Industri makanan tumbuhnya memang kecil di tahun 2017, itu sekitar 9,2 persen," kata Suhariyanto dalam konferensi pers, Kamis.
Dia menambahkan, meskipun pertumbuhan indstri makana kecil tetapi justru terbesar yaitu 30,51 persen terhadap total pertumbuhan IMK.
Selain makanan, meski pertumbuhannya relatif kecil 5,77 persen menyumpang sebesar 10,89 persen pada total pertumbuhan IMK.
Terkait dengan itu, Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan IMK yang positif diikuti oleh penurunan lima industri utama, yaitu industri pengolahan tembakau yang turun 20,45 persen.
Kemudian industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional turun 6,54 persen, kata dia.
Sedangkan industri mesin dan perlengkapannya anjlok sebesar 2,24 persen, tambah dia.
Selain itu, penurunan juga terjadi pada industri karet, barang dari karet dan plastik sebesar 5,72 persen, kata Suhariyanto.
Kemudian industri kendaraan bermotor, kata dia, trailer dan semi trailer yang juga anjlok sebesar 2,23 persen.
"Pertumbuhan negatif terbesar pada 2017 lalu terjadi pada industri pengolahan tembakau yaitu 20,45 perse," kata dia.
Produksi embakau kering atau ketengan kering menurun di tiga propinsi yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur, kata dia.
"Itu turunnya di atas 30 persen, faktornya adalah iklim atau cuaca," tambah dia.