Erric Permana
01 September 2020•Update: 02 September 2020
JAKARTA
Indonesia berpotensi mengalami resesi jika ekonomi kembali terkontraksi pada kuartal ketiga tahun ini, kata Presiden Joko Widodo guna mencegah terjadi resesi.
"Kalau kita masih berada pada posisi minus artinya kita masuk ke resesi, karena itu saya minta percepat belanja APBD provinsi," kata Jokowi -- sapaan Presiden – dalam Rapat Terbatas mengenai Pengarahan Presiden kepada Para Gubernur Menghadapi Pandemi Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Bogor, Selasa.
Dalam ekonomi makro, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.
Pada kuartal kedua 2020, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 5,32 persen, oleh karena itu Jokowi meminta pemerintah daerah mempercepat belanja APBD.
Presiden meminta pemerintah provinsi diminta untuk segera melakukan belanja barang, modal, dan bantuan sosial untuk meningkatkan konsumsi masyarakat dan memulihkan ekonomi daerah.
"Realisasi APBD seperti ini setiap hari saya ikuti. Semua provinsi, kabupaten, dan kota kelihatan semua angka-angkanya. Tolong betul-betul angka-angka ini diperhatikan sehingga realisasi untuk pengadaan barang dan jasa untuk belanja modal atau belanja bansos itu benar-benar segera terealisasi," kata Jokowi.
Data yang diterima Presiden menunjukkan hingga 27 Agustus 2020 lalu rata-rata nasional untuk realisasi belanja APBD provinsi masih berada di angka 44,74 persen.
Sementara untuk realisasi di tingkat kabupaten dan kota juga baru mencapai 48,8 persen.