Erric Permana
16 Agustus 2021•Update: 17 Agustus 2021
JAKARTA
Presiden Joko Widodo menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2022 berada di kisaran 5 persen hingga 5,5 persen.
Meski demikian, kata Jokowi, panggilan Joko Widodo, pemerintah tetap waspada karena perkembangan Covid-19 masih sangat dinamis.
"Kita akan menggunakan seluruh sumber daya, analisis ilmiah, dan pandangan ahli untuk terus mengendalikan Pandemi Covid-19," jelas dia saat menyampaikan pidato dalam rangka Penyampaian RUU APBN 2022 di Gedung MPR/DPR pada Senin.
Tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut, jelas Jokowi, juga menggambarkan proyeksi pemulihan yang cukup kuat, didukung oleh pertumbuhan investasi dan ekspor sebagai dampak pelaksanaan reformasi struktural.
"Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat ketidakpastian global dan domestik dapat menyumbang risiko bagi pertumbuhan ekonomi ke depan," tambah dia.
Asumsi indikator ekonomi makro dalam RAPBN 2022 di antaranya Inflasi akan tetap terjaga pada tingkat 3 persen.
"Ini menggambarkan kenaikan sisi permintaan, baik karena pemulihan ekonomi maupun perbaikan daya beli masyarakat," kata dia.
Sementara itu, Rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp14.350 per dolar Amerika Serikat dan suku bunga Surat Utang Negara 10 tahun diperkirakan sekitar 6,82 persen.
"Ini mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia dan pengaruh dinamika global," kata dia.
Dia menambahkan Harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan akan berkisar pada USD63 per barel.
"Lifting minyak dan gas bumi diperkirakan masing-masing mencapai 703.000 barel dan 1.036.000 barel setara minyak per hari," jelas Jokowi.
Dia juga menegaskan ada enam fokus utama pemerintah dalam kebijakan APBN 2022 di antaranya melanjutkan upaya pengendalian Covid-19, menjaga keberlanjutan program perlindungan sosial serta memperkuat agenda peningkatan sumber daya manusia.
"Melanjutkan pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kemampuan adaptasi teknologi dan penguatan desentralisasi fiskal untuk peningkatan dan pemerataan kesejahteraan antardaerah," jelas dia