Iqbal Musyaffa
12 Maret 2020•Update: 13 Maret 2020
JAKARTA
Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengatakan nilai kerugian yang dialami industri hotel dan restoran Indonesia akibat virus korona mencapai USD400 juta.
Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani mengatakan dampak penyebaran virus koronan sudah mulai terasa dan terlihat dari rendahnya okupansi hotel di Jakarta yang saat ini sekitar 30 persen, sementara okupansi hotel di Bali hanya 20 persen, khususnya pada daerah yang banyak dikunjungi individual traveler atau wisatawan personal seperti Kuta, Sanur, Legian, Ubud, dan Jimbaran.
“Kalau rata-rata okupansi hotel di bawah 30 persen, hotel memang belum mem-PHK karyawannya, tapi hari kerja karyawan digilir,” ujar Hariyadi dalam diskusi di Jakarta, Kamis.
Dia menjelaskan hotel perlu mengubah hari kerja karyawan karena hotel harus mengatur masalah gaji karyawan sehingga karyawan terpaksa tidak mendapatkan gaji full karena pengurangan hari kerja.
“Dampaknya juga tidak hanya sampai pada hotel dan restoran saja, tapi pendapatan masyarakat juga jadi turun sehingga menimbulkan dampak ekonomi baru."
Hariyadi menjelaskan sektor perhotelan belum sampai melakukan PHK, karena ada tiga jenis karyawan pada industri perhotelan, yakni karyawan harian, karyawan kontrak, dan karyawan tetap.
“Karyawan harian saat ini semua tidak dipakai. Yang karyawan kontrak dan permanen seperti di Bali, sudah mulai masuk bergilir dan sebagian dirumahkan karena perusahaan harus jaga cashflow sehingga gaji karyawan hanya 50 persen,” urai Hariyadi.
Dia mengatakan pengusaha industri hotel dan restoran sudah mengajukan relaksasi pembayaran pokok pinjaman dan bunga kepada Otoritas Jasa Keuangan agar arus modal perusahaan tetap terjaga.
“Kalau untuk restoran, lebih banyak karyawan kontrak, jadi tidak terlalu berat dibandingkan hotel sehingga bisa adaptasi pada penyesuaian jumlah karyawan,” lanjut dia.
Sementara itu, Hariyadi juga menyayangkan rencana pemerintah yang ingin memajukan belanjanya, khususnya untuk belanja seperti rapat dan pertemuan menjadi di awal tahun yang belum juga terealisasi.
“Bahkan, kami dapat konfirmasi ada beberapa kementerian yang membuat surat edaran untuk melarang kegiatan yang melibatkan orang banyak. Kalau pemerintah ngerem itu, ada imbas pada industri hotel restoran dan ini jadi perhatian kita,” ungkap Hariyadi.
Lebih lanjut, Hariyadi mengatakan secara umum dampak penyebaran virus korona pada sektor pariwisata lebih besar lagi bila dibandingkan dengan potensi kerugian pada sektor perhotelan dan restoran saja.
Dia mengatakan perkiraan kerugian sektor pariwisata sejak Januari hingga saat ini mencapai USD1,5 miliar dengan asumsi ada penurunan kunjungan turis asal China yang pada tahun 2019 mencapai 2 juta orang dengan tingkat pengeluaran rata-rata USD1100 per sekali datang.
Hariyadi mengatakan momentum puncak kunjungan turis China yang seharusnya terjadi pada Januari-Februari saat imlek sudah hilang akibat penyebaran virus korona.
Dia menjelaskan potensi kerugian USD1,5 miliar tersebut berasal dari tidak ada penerbangan dari China serta pembatalan penerbangan dari beberapa negara dan juga berkurangnya turis domestik sebesar USD1,1 miliar, dan potensi kerugian USD400 juta terjadi pada sektor hotel dan restoran.