Iqbal Musyaffa
26 September 2017•Update: 26 September 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Direktur Utama PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta William Sabandar memastikan konstruksi fisik transportasi cepat terpadu MRT Jakarta akan rampung sebelum penyelenggaraan Asian Games atau sebelum Agustus 2018, meskipun saat itu MRT belum bisa dinikmati oleh masyarakat. Operasionalnya baru akan resmi dibuka Maret 2019.
Saat ini MRT Jakarta tengah mengejar target penyelesaian konstruksi hingga akhir tahun sebesar 93 persen.
“Empat bulan sebelum resmi beroperasi akan diuji coba tanpa penumpang, sehingga pada saat operasional fasilitas transportasi umum ini bisa digunakan dengan baik,” ujarnya, Selasa.
Saat ini pembangunan MRT Fase I dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI) sudah berjalan 80,15 persen.
“Pengerjaan konstruksi layang sekitar 70,16 persen dan konstruksi bawah tanah 90,22 persen,” urainya.
Dari 13 stasiun fase I, delapan di antaranya merupakan Transit Oriented Development (TOD) untuk menghubungkan MRT dengan kawasan perbelanjaan dan perkantoran.
Empat TOD di antaranya berada di atas tanah, antara lain Dukuh Atas, Blok M-Sisingamangaraja, koridor Fatmawati Raya, dan Lebak Bulus.
Keempat TOD ini merupakan rancangan induk pengembangan TOD tahap I. “TOD Dukuh Atas akan selesai lebih dulu Desember mendatang. TOD lainnya Maret tahun depan,” jelasnya.
Sementara empat lainnya berada di bawah tanah yang akan berlokasi di Bundaran HI, Setiabudi, Bendungan Hilir, dan Istora Senayan masuk ke dalam rencana induk pengembangan TOD tahap II.
“Ini akan didesain dengan baik karena berkonsekuensi pada pemanfaatan lahan di bawah tanah,” tambahnya.
Pengembangan TOD melibatkan berbagai pihak sesuai kepemilikan lahan, antara lain pemerintah daerah, BUMN, serta pengembang swasta.
Selain itu, PT MRT Jakarta juga akan menata 1400 meter trotoar khusus di kawasan stasiun MRT.
“Agar terintegrasi dengan fasilitas yang aman dan nyaman untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda,” ujar William.
Trotoar akan diperlebar menjadi 8-15 meter dan akan terintegrasi dengan pintu masuk stasiun MRT. Trotoar yang akan dipugar MRT berada di kawasan Senayan, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI.
“Trotoar di luar kawasan itu menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi,” lanjutnya.
Sementara soal tarif MRT, William belum bisa memastikan, namun bergantung pada banyaknya penumpang dan besaran subsidi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Berdasarkan survei tahun 2012, kata William, besaran tarif sekitar Rp20 ribu dengan rata-rata 173 ribu penumpang per hari.
Saat ini PT MRT Jakarta sedang melakukan survei terbaru untuk mengetahui besaran tarif yang sesuai.
“Kita akan lihat berdasarkan kemampuan dan keinginan penumpang untuk membayar untuk kemudian membahas besaran subsidi yang dibutuhkan,” tambahnya.