Iqbal Musyaffa
26 September 2017•Update: 27 September 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemulihan menyeluruh pada perdagangan global, ekspansi perdagangan yang kuat di negara industri maju, serta prospek pertumbuhan ekonomi di Tiongkok menyebabkan pertumbuhan ekonomi di sebagian besar negara berkembang Asia relatif baik dua tahun belakangan. Demikian bunyi laporan dari Asia Development Bank (ADB), Selasa.
ADB memperkirakan, pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia berada pada level 5,9 persen pada tahun ini dan 5,8 persen di tahun depan.
Pertumbuhan di kawasan Asia ini didorong oleh pulihnya perdagangan global. Nilai dolar ekspor dari kawasan Asia melonjak 11 persen pada lima bulan pertama tahun ini dibandingkan periode sama pada tahun lalu (year on year) dengan kenaikan impor sebesar 17 persen.
“Kenaikan tersebut terjadi setelah nilai ekspor selama dua tahun sebelumnya terus menyusut akibat merosotnya harga komoditas dan lesunya permintaan manufaktur,” urai Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada.
Sawada mengatakan, perekonomian kawasan Asia Tenggara akan bertumbuh lebih kuat seiring dengan peningkatan ekonomi global, dari 5 persen pada tahun ini menjadi 5,1 persen pada tahun depan.
Perkiraan ini lebih baik dari laporan sebelumnya, yakni sebesar 4,8 persen pada 2017 dan 5 persen untuk tahun 2018.
Peningkatan ekspor dari Singapura dan Malaysia akan menjadi ujung tombak pertumbuhan kawasan.
“Sementara Indonesia dan Thailand diperkirakan masih akan sama dari kondisi ekspor sebelumnya,” jelasnya.
Tiongkok, di sisi lain, selama ini mampu melampaui ekspektasi pertumbuhan ekonominya karena kebijakan fiskal yang ekspansif dan permintaan eksternal yang tidak terduga.
Namun, pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun depan diperkirakan akan melambat ke level 6,4 persen akibat dari mulai berjalannya reformasi untuk memangkas kelebihan kapasitas industri dan mengurangi risiko keuangan.
Sawada menambahkan, negara-negara di kawasan Asia harus memanfaatkan prospek ekonomi jangka pendek yang menguntungkan ini untuk melakukan reformasi dalam peningkatan produktivitas serta berinvestasi pada infrastruktur yang dibutuhkan.
Negara-negara Asia juga perlu mempertahankan manajemen makro ekonomi yang baik, “demi meningkatkan potensi pertumbuhan jangka panjangnya”.