Muhammad Latief
JAKARTA
Seorang perempuan memperagakan cara menggunakan jilbab dari scraft segi empat. Dia melipat dan mengancing kain bercorak warna-warni menggunakan jarum. Setelah selesai memakai penutup kepala, wajahnya tampak tirus mengenakan hijab yang terlihat sederhana dan modern.
Adegan ini ada di chanel “Nina Septiana” pada platform video sharing Youtube. Unggahan ini sudah ditonton oleh 544 ribu kali.
Unggahan sejenis banyak bertebaran di media sosial, baik Youtube, Instagram, Facebook maupun platform lain. Seiring meningkatnya gaya hidup wanita muslim perkotaan yang tetap ingin tampil menawan, para vloger bermunculan mengajarkan cara menggunakan jilbab yang praktis tapi tetap cantik.
Scraft segi empat yang dikenakan Nina sering disebut jilbab Turki. Kain bercorak warna-warni, lebar. Turki adalah adalah salah satu eksportir busana muslim ke pasar dunia, bersama dengan Bangladesh, Maroko, Pakistan dan Indonesia.
Desainer Lutfie Madjid mengatakan di Indonesia, produk asal Turki dikenali dengan kaftan yang besar. Selain itu, kain segi empat besar berwarna-warni. Produk dari Turki ini digunakan merek-merek busana muslim dagang terkenal dan perancang-perancang busana di Indonesia, seperti Elzatta.
“Mulai muncul permintaan kaftan ala-ala Turki. Sudah mulai,” ujar dia.
Tekstil asal Turki menurut Lutfie unggul dalam kualitas, karena itu diminati. Selain itu, jenis bahannya juga beragam, sehingga tersedia banyak pilihan untuk digunakan pada beragam keperluan.
Menurut dia, pakaian muslim modest ala Turki pernah booming saat masyarakat Indonesia tengah menggemari opera sabun asal negara itu yang ditayangkan pada beberapa stasiun TV swasta, beberapa waktu lalu. Masyarakat Indonesia ingin meniru pakaian yang dikenakan oleh pemeran dalam sinetron “Elif”, “Orphan Flowers” atau “Endless Love”.
Busana muslim merupakan salah satu produk Turki yang diimpor Indonesia belakangan ini. Produk lain adalah tembakau, telepon, disodium karbonati, bijih kromium dan karpet.
Pada 2017 lalu, total perdagangan kedua negara mencapai USD1,70 miliar. Indonesia mengekspor produknya senilai USD1,17 miliar sementara impor sebesar USD534,06 juta.
Tahun ini, dari Januari hingga April sudah mencapai USD663,34 juta, terdiri dari ekspor sebesar USD 482,91 juta dan impor sebesar USD180,43 juta.
Konsul Jenderal Indonesia untuk Turki Herry Sudrajat mengatakan, hubungan perdagangan Indonesia-Turki akan meningkat setelah kedua negara menyelesaikan perundingan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
Kepada Anadolu Agency, dia mengatakan bahwa barang dari Indonesia selama ini dikenai tarif yang tinggi, mulai dari 8 persen hingga lebih dari 50 persen. Ini membuat pengusaha Indonesia enggan memasarkan produknya ke sana.
“Kita ini belum ada perjanjian sama sekali. Kalau memang CEPA disepakati ada saling menguntungkan,” ujar dia dalam pertemuan persiapan misi dagang ke Turki dan Kenya di Jakarta, Senin.
Seperti diketahui, perdagangan Indonesia-Turki terus mengalami penurunan sejak 2014 hingga 2016. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan perdagangan kedua negara pada 2013 mencapai USD2,85 miliar atau sekitar Rp 34,9 triliun, tapi pada 2016 tinggal USD1,02 miliar.
Pada 2015 juga turun hingga 43 persen menjadi USD1,4 miliar dari tahun sebelumnya. Ekspor Indonesia turun hampir 20 persen menjadi USD1,16 miliar dan impor dari Turki anjlok hampir 76 persen menjadi USD249,8 juta.
Menurut Herry, dengan jumlah penduduk sekitar 80 juta dan pendapatan per kapita pada 2016 sebesar USD11 ribu dan pertumbuhan ekonomi 5,1 persen, Turki adalah pasar yang besar dan potensial. Apalagi dengan keunggulan posisi geografisnya, Turki juga bisa menjadi pintu masuk produk Indonesia ke kawasan Eropa, Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tengah mengingat Turki memiliki perjanjian perdagangan dengan berbagai blok ekonomi tersebut.
Produk Indonesia yang sudah berada di pasar Turki antara lain minyak sawit dan turunannya karet alam, benang sintetik, palm kernel (biji palem), chemical wood pulp (bubur kayu kimia), stearic acid (asam stearat), gear boxes (kotak persneling), kertas dan karton, sepeda motor, dan ban pneumatik.
Indonesia dan Turki, kata Herry sudah menyelesaikan perundingan CEPA putaran kedua pada akhir Mei lalu dan menegaskan pentingnya percepatan proses bagi kedua negara. Kedua negara sudah melakukan penawaran untuk perdagangan barang.
“Perundingan Putaran ke-3 akan diselenggarakan di Indonesia sekitar September-November 2018,” ujar dia.
Presiden Joko Widodo dan Presiden Erdogan menargetkan perdagangan kedua negara meningkat hingga USD10 miliar pada 2030.
Menurut Herry, Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan karena secara psikologis, masyarakat Turki merasa dekat. Di negara tersebut, jika dihadapkan pada dua pilihan barang yang sama kualitas dan harganya, maka konsumen Turki cenderung memilih produk dari Indonesia.
“Ini keunggulan kita sebenarnya. Harus dimaksimalkan,” ujar dia.
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono pada Anadolu Agency mengatakan kelapa sawit adalah salah satu sektor yang merasakan dampak nyata tidak adanya perjanjian dagang Indonesia-Turki.
Menurut dia, perdagangan minyak kelapa sawit Indonesia kini sedang jatuh pada titik terendahnya dengan hanya mengirimkan produk sekitar 10 ribu ton. Padahal, ekspor minyak kelapa sawit ke Turki pernah mencapai angka tertinggi sekitar 600 ribu ton dalam setahun.
Menurut dia, tarif produk ini mencapai 40 persen. Akibatnya, produk sawit asal Indonesia sulit bersaing di pasaran, karena harus menaikkan harga. Tak kuat dengan kondisi seperti itu, para pengusaha akhirnya menghentikan ekspor.
Pasar Turki segera berpaling ke produk kelapa sawit asal Malaysia yang bisa dijual dengan harga murah. Ini karena mulai 2014, Malaysia dan Turki sudah mempunyai perjanjian dagang sehingga barang-barang kedua negara bisa masuk tanpa hambatan berarti. Dengan perjanjian ini, tarif masuk minyak kelapa sawit asal Malaysia turun dari 31 persen menjadi 20 persen.
Sejak perjanjian dagang ini, kinerja ekspor Malaysia makin moncer. Sebagai perbandingan, pada 2013, ekspor Indonesia ke Turki sudah mencapai 286 ribu ton, sedangkan Malaysia baru mencatatkan ekspornya pada angka 83,5 ribu ton. Hanya dalam waktu beberapa tahun setelah perjanjian dagang, angka ekspor ke Turki mencapai ratusan ribu ton, jauh mengungguli Indonesia yang malah terpuruk.
Menurut Joko, pemerintah terlambat menginisiasi perjanjian dagang dengan Turki. Seharusnya, sambil menunggu penyelesaian perundingan CEPA, pemerintah menginisiasi preferential trade agreement (PTA) agar bisa mengurangi tarif masuk.
Direktur Promosi dan Citra Kementerian Perdagangan Sulistyowati mengatakan pemerintah berusaha memfasilitasi pengusaha-pengusaha Indonesia memasarkan produknya ke Turki dengan menggelar misi dagang pada 28-30 Agustus mendatang di Istanbul. Menurut dia, misi dagang adalah salah satu cara penetrasi pasar ekspor yang dapat meningkatkan volume perdagangan lebih cepat karena pelaku usaha bertemu mitranya langsung.
Menurut Sulis, misi dagang berisi kegiatan seperti forum bisnis, one on one business matching dan company visit.
“Harapannya, para peserta misi dagang bisa berinteraksi langsung dengan pembeli dan menjalin kemitraan di masa depan,” ujar dia.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan Turki termasuk negara pasar non tradisional produk Indonesia. Untuk negara ini, pemerintah harus gencar melakukan promosi untuk mengenalkan barang-barang asal Indonesia yang cocok dengan pasar negara tersebut.
Promosi bisa dilakukan dengan pameran dagang atau mengaktifkan diplomasi ekonomi, sehingga penetrasi pasar menjadi lebih besar.
Langkah berikutnya adalah negosiasi untuk menghilangkan hambatan dagang baik yang berasal dari tarif maupun non tarif.
Lebih lanjut Bhima menyarankan agar Indonesia juga memperbaharui perjanjian kerja sama perdagangan secara bilateral. Misalnya, perdagangan Indonesia-India, Indonesia-Pakistan yang belakangan terhambat karena masalah tarif impor kelapa sawit.
Pemerintah juga perlu melakukan diversifikasi produk ekspor, agar sesuai dengan kebutuhan pasar negara tujuan.
news_share_descriptionsubscription_contact



