Muhammad Nazarudin Latief
07 Desember 2017•Update: 08 Desember 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Pengusaha di Indonesia masih yakin, sektor ritel tetap menarik perhatian investor, meski pada kenyataannya banyak toko-toko besar yang gulung tikar.
Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Investasi, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan ada beberapa perusahaan ritel asing yang ingin masuk.
Mereka ingin membangun mal dengan konsep gaya hidup, restoran dan hiburan.
“Jollibee dari Filipina itu mau masuk. Ada beberapa yang sedang approach untuk masuk,” ujarnya di Jakarta, Kamis.
Peritel asing yang sudah berada di Indonesia, menurut Shinta tahun depan juga akan terus ekspansi, karena bisnis mereka mengutamakan volume.
Seperti hypermarket Lulu, meski sudah membuka toko di Bekasi, Jawa Barat dan Serpong, Tangerang, Banten, perusahaan asal Uni Emirat Arab ini akan terus membuka toko.
“Meski penambahannya tidak sebesar yang mereka targetkan,” ujarnya.
Sayangnya pemain ritel lama tidak akan melakukan ekspansi besar-besaran, bahkan tren penutupan toko akan berlanjut.
Kondisi ini, menurutnya tidak hanya terjadi di Indonesia, negara yang lebih seperti Amerika Serikat dan Australia juga mengalami hal yang sama.
Bisa jadi akan ada kecenderungan merger atau penggabungan usaha oleh para pemain ritel besar.
Shinta yang juga pimpinan Sintesa Grup ini mengatakan, ritel cenderung berubah ke toko-toko yang lebih spesialis. Seperti gerai makanan organik dan mulai menggunakan strategi e-commerce.
Namun kehadiran produk-produk asal Indonesia di lapak-lapak e-commerce juga harus ditingkatkan. Saat ini, pasar e-commerce Indonesia ternyata di dominasi barang-barang impor asal Tiongkok, karena harganya sangat murah.
“Kita pasang online gede-gedean tapi produk Indonesia tidak terbantu. Itu sama aja membantu produk asing,” ujarnya.