Muhammad Latief
23 Agustus 2017•Update: 23 Agustus 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2017 defisit USD 271,2 juta. Ini terjadi karena Indonesia banyak mengimpor bahan baku dan barang modal. Namun, menurut Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oka Nurwan pada Selasa, ini tak berarti sinyal buruk bagi perdagangan dalam negeri.
“Karena impor [bahan baku dan barang modal] digunakan untuk memacu produktivitas dalam negeri. Mendorong produksi. Tetapi memang membuat defisit,” ujar Oka kepada Anadolu Agency. Menurut Oka, Kemendag juga tengah mengkaji mengapa impor kedua bahan ini menimbulkan defisit.
Dari beberapa kajian, industri dalam negeri memang masih mengandalkan bahan baku, bahan penolong, dan barang modal dari luar negeri. Industri tersebut antara lain permesinan dan logam, otomotif, elektrik, kimia dasar, makanan dan minuman, pakan ternak, tekstil dan produk tekstil, pulp, dan kertas.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pertama kali defisit di tahun ini, setelah berturut-turut mengalami surplus sejak 2015. Tahun ini, impor Indonesia mencapai USD 13,89 miliar, naik 38% dibanding bulan sebelumnya. Tercatat, kenaikan ini 54,02% bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu (year on year).
Berdasarkan jenis barangnya, impor bahan baku dan barang modal naik tajam. Impor bahan baku pada Juli tahun ini naik 40,70% dibandingkan bulan sebelumnya (naik 52,94% year on year). Kenaikan tertinggi terjadi pada impor emas, pottasium chloride, dan raw cotton.
Di sisi lain, impor barang modal pada Juli 2017 naik 62,57% dibandingkan bulan sebelumnya (naik 62,02% year on year). Kenaikan impor barang modal tertinggi secara bulanan terjadi pada impor pistol, kendaraan bermotor untuk tujuan khusus, dan kendaraan bermotor yang mengangkut lebih dari 10 orang.
Kondisi ini selain membuat pergerakan kurs rupiah rentan terhadap mata uang asing, juga membuat neraca perdagangan Indonesia tidak stabil.
Senada dengan Oka, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan impor bahan baku akan menggerakkan industri dalam negeri. “Sedangkan impor barang modal menggerakkan produk domestik bruto,” kata dia dalam kesempatan terpisah.
Pemerintah, menurut Oka, sebenarnya ingin mengatasi masalah ini dengan mempercepat program hilirisasi, agar ketergantungan terhadap barang impor mengecil. Permasalahannya, banyak sumber daya alam Indonesia – baik agro maupun mineral – diekspor dalam keadaan mentah, lalu diolah di negara lain menjadi barang semi jadi. Kemudian diimpor kembali ke Indonesia sebagai bahan baku atau bahan penolong.