İqbal Musyaffa
22 Februari 2018•Update: 22 Februari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Meskipun pemerintah menghentikan sementara pengerjaan proyek layang, namun pengerjaan jembatan Holtekamp di Papua dapat dilanjutkan setelah mendapat persetujuan dari Komite Keselamatan Konstruksi.
Pengangkatan bentang tengah jembatan dengan bobot mencapai 2.000 ton dapat dilakukan setelah sebelumnya dilakukan evaluasi oleh Komite Keselamatan Konstruksi (KKK) dan Komisi Keamanan Jembatan Panjang dan Terowongan Jalan (KKJTJ).
Menurut Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi mengatakan evaluasi dilakukan terhadap desain, metode kerja, sumber daya manusia, dan peralatan kerja proyek jembatan tersebut.
Dalam keterangan resmi, Kamis, Arie menjelaskan proses pengangkatan ini merupakan kegiatan konstruksi pertama yang dilakukan dengan pengawasan ketat terhadap pemenuhan ketentuan keamanan dan keselamatan konstruksi.
"Untuk dapat melanjutkan pekerjaan elevated tersebut, penanggung jawab pekerjaan dan pelaksana pekerjaan menyampaikan kembali desain dan metode kerjanya,” ungkap dia.
Arie mengakui telah mengecek ulang seluruh kesiapan proyek secara menyeluruh.
Pengangkatan bentang tengah pertama membutuhkan waktu satu minggu dan dilanjutkan dengan pengangkatan bentang tengah jembatan yang kedua.
Setelah kedua bentang tengah tersebut terangkat, Arie menambahkan, akan dilakukan penyambungan dan pengelasan yang membutuhkan waktu 4 hari.
Selanjutnya, pengerjaan jembatan tersebut akan dilakukan dengan pemasangan bondek untuk plat lantai, pemasangan bearing, pembesian, dan pengecoran lantai jembatan yang ditargetkan selesai Juni mendatang.
Sebagai informasi, bentang tengah jembatan Holtekamp diproduksi oleh PT PAL Indonesia di Surabaya dan telah menempuh perjalanan sejauh 3.200 km dengan waktu tempuh 19 hari ke Papua.
Kehadiran Jembatan Holtekamp dengan total panjang 732 meter tersebut akan memangkas waktu tempuh pengguna jalan dari Kota Jayapura ke Muara Tami yang akan menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw dari 2,5 jam menjadi 60 menit.
“Selain itu, juga akan mendorong pengembangan kawasan pertumbuhan baru, menumbuhkan sektor pariwisata, dan sebagai ikon baru kebanggan Indonesia khususnya Papua,” jelas Arie.
Pembangunan jembatan ini dilakukan oleh konsorsium kontraktor PT Pembangunan Perumahan, PT Hutama Karya, dan PT Nindya Karya dengan biaya Rp1,7 triliun.