İqbal Musyaffa
10 September 2018•Update: 11 September 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah meminta masyarakat untuk tidak terlalu mengkhawatirkan pelemahan nilai tukar rupiah karena kondisi saat ini masih jauh dari krisis.
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir dalam diskusi di Jakarta, Senin, mengatakan meskipun rupiah melemah, tetapi indikator ekonomi lainnya masih baik bila dibandingkan dengan kondisi pada 1998.
Defisit transaksi berjalan (CAD) saat ini, menurut dia, memang di atas 3 persen atau 3,04 persen dari PDB pada kuartal kedua, tetapi masih dalam kondisi yang belum mengkhawatirkan.
Menurut Iskandar, pada 2013 CAD pernah mencapai 3,19 persen dari PDB dengan pertumbuhan ekonomi 5,56 persen dan inflasi 8 persen tetapi perekonomian tetap stabil.
“Kondisi saat ini bukan kiamat dan krisis,” tegas dia.
Meski begitu, Iskandar mengakui bahwa pemerintah terus mewaspadai kondisi perekonomian global yang berdampak pada perekonomian domestik saat ini.
Defisit transaksi berjalan yang dihadapi pemerintah tahun ini menurut dia, diperparah dengan adanya ketidakpastian pada ekonomi global sehingga membuat aliran modal asing yang masuk menjadi terbatas dan membuat banyaknya modal asing yang keluar.
“Yang terpenting, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini tidak perlu menjadi ketakutan yang berlebihan. Justru jika terlalu khawatir, kondisi ekonomi Indonesia akan sulit bangkit,” imbuh Iskandar.