Ivan Nganwa
22 Maret 2018•Update: 23 Maret 2018
Ivan Nganwa
ANKARA
Perwakilan dari 44 negara Afrika pada Rabu menandatangani perjanjian kawasan perdagangan bebas untuk meningkatkan perdagangan di benua itu.
Kesepakatan untuk mewujudkan Kawasan Perdagangan Bebas Kontinental Afrika (AfCFTA), yang ditandatangani pada konferensi puncak luar biasa di Kigali, Rwanda, mengharuskan pemerintah untuk menghapus tarif pada 90 persen barang Afrika dan menghapus sisanya kemudian.
Artinya, pedagang dan konsumen dari negara-negara anggota tidak lagi membayar tarif yang dikenakan pada berbagai macam barang yang diperdagangkan di antara mereka sendiri.
AfCFT akan mencakup pasar 1,2 miliar orang dan gabungan PDB sebesar USD2,5 triliun dan menjadikan Afrika sebagai kawasan perdagangan bebas terbesar di dunia berdasarkan jumlah negara yang berpartisipasi sejak Organisasi Perdagangan Dunia dibentuk pada 1995.
Perwakilan negara yang tidak hadir dan menolak menandatangani perjanjian itu adalah Nigeria -- yang mengatakan "butuh lebih banyak waktu" untuk berkonsultasi dengan sektor swasta terlebih dahulu -- dan Burundi, yang mengatakan bahwa pihaknya khawatir akan keselamatan para delegasinya karena hubungan yang memanas dengan Rwanda.
Selain itu, perwakilan dari Namibia, Sierra Leone dan Eritrea juga tidak berpartisipasi dalam penandatanganan. Namun, mereka masih memiliki kesempatan untuk meneken perjanjian dalam 180 hari.
"Perjanjian perdagangan bebas dan gerakan bebas adalah kemakmuran bagi semua orang Afrika karena kami memprioritaskan produksi barang dan jasa bernilai tambah yang dibuat di Afrika," kata Ketua Uni Afrika dan Presiden Rwanda Paul Kagame.
“Keuntungan yang kami peroleh dengan menciptakan satu pasar Afrika juga akan menguntungkan mitra dagang kami di seluruh dunia,” jelas dia.
Menurut data Uni Afrika, perdagangan Intra-Afrika mencapai 16 persen dari keseluruhan kontinen, yang dapat meningkat hingga separuhnya dengan AfCFTA.