İqbal Musyaffa
21 Oktober 2019•Update: 22 Oktober 2019
JAKARTA
Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan pada periode kedua ini Presiden Joko Widodo wajib memperkuat sektor manufaktur.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan manufaktur menjadi hal penting untuk mewujudkan mimpi Presiden membawa Indonesia menjadi negara maju pada 2045 mendatang.
Pada pidatonya saat pelantikan hari Minggu, Presiden Joko Widodo mengatakan pada saat perayaan satu abad kemerdekaan pada 2045 mendatang, Indonesia bisa keluar dari jebakan kelas menengah menjadi negara maju dengan pendapatan Rp320 juta per kapita per tahun atau Rp27 juta per kapita per bulan.
Presiden juga menegaskan untuk melakukan transformasi ekonomi dari ketergantungan terhadap sumber daya alam menjadi negara dengan daya saing manufaktur dan jasa modern.
“Kembali lagi penguatan sektor manufaktur berbasis nilai tambah dan ekonomi digital menjadi hal penting,” jelas Bhima, kepada Anadolu Agency melalui pesan singkat, Senin.
Menurut Bhima, apabila dua sektor tersebut dapat dipacu dengan kebijakan yang tepat, maka dapat menghasilkan serapan tenaga kerja yang lebih tinggi dan menggeser masyarakat untuk bekerja ke sektor formal.
Bhima menilai dalam pidatonya, Presiden menekankan prioritasnya pada faktor fundamental seperti pengembangan sumber daya manusia, infrastruktur, simplifikasi birokrasi, dan inovasi.
“Intinya, Presiden ingin loncat ke sektor yang hi-tech dan bernilai tambah tinggi,” kata Bhima.
Namun, Bhima memberikan catatan terkait pidato Presiden yang sama sekali tidak menyinggung resesi, perang dagang, ataupun ketidakstabilan geopolitik global.
“Fokus jangka panjang seharusnya juga paralel dengan langkah strategis menghadapi gejolak jangka pendek. Itu yang menurut saya masih kurang,” imbuh Bhima.
Dia juga berharap tim ekonomi dalam kabinet periode kedua nantinya banyak diisi oleh kalangan profesional, meskipun dengan tekanan politik yang ada saat ini, maka masih akan ada orang-orang dari partai politik yang duduk di tim ekonomi.
Dalam kesempatan berbeda, Direktur Riset Centre of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah menilai bahwa Indonesia sudah terlalu lama meninggalkan sektor industri manufaktur sehingga sangat sulit untuk mengejar ketertinggalan di sektor ini.
“Struktur perekonomian Indonesia bergantung pada komoditas sementara secara global, permintaan dan harga turun,” kata Piter.
Oleh karena itu, dia mengatakan pada 2020 Indonesia sudah tidak bisa lagi berharap pada ekspor komoditas untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi.