İqbal Musyaffa
21 Oktober 2019•Update: 21 Oktober 2019
JAKARTA
Bank Indonesia menyepakati perlunya upaya bersama untuk meningkatkan kerja sama, memitigasi risiko, meningkatkan ketahanan ekonomi, dan mengimplementasikan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan melalui bauran kebijakan.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan bank sentral mendukung kelanjutan kajian Integrated Policy Framework yang sedang dilakukan IMF untuk meningkatkan pemahaman dan efektivitas kebijakan ekonomi yang ditempuh oleh setiap negara sesuai dengan karakteristik dan kondisinya.
Dody menyampaikan pandangannya saat menghadiri rangkaian Pertemuan Tahunan International Monetary Fund dan World Bank (IMF-World Bank) pada 16-19 Oktober 2019 di Washington D.C., Amerika Serikat.
Menurut Dody, berbagai risiko tetap mengancam pertumbuhan ekonomi global antara lain berupa ketegangan perdagangan (trade tensions) yang berimplikasi pada ketidakpastian kebijakan, risiko geopolitik, pengetatan kondisi keuangan di tengah terbatasnya ruang kebijakan, tingginya tingkat utang, dan meningkatnya kerentanan di sektor keuangan.
Di samping itu, risiko terkait perubahan iklim (climate change) juga menjadi perhatian pada Pertemuan Tahunan ini karena dipandang memiliki dampak bagi stabilitas sistem keuangan.
“Oleh karena itu, perlu segera dimitigasi dengan kebijakan di sektor keuangan,” ujar Dody, dalam keterangan resmi, Senin.
Dia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi juga menjadi topik diskusi sehubungan dengan manfaat dan juga risikonya sehingga diperlukan upaya untuk menyeimbangkan dukungan bagi inovasi di sektor keuangan dengan pengaturan dan pengawasannya.
Lebih lanjut, Dody mengatakan dalam plenary meeting International Monetary and Financial Committee (IMFC), peserta mendukung Global Policy Agenda IMF yang disampaikan Managing Director IMF yang baru, Kristalina Georgieva, yang berupaya untuk memperkuat kerja sama internasional, meningkatkan daya tahan ekonomi dan meningkatkan inklusivitas perekonomian global untuk mendukung pertumbuhan yang lebih berkesinambungan, termasuk memfasilitasi solusi global terkait teknologi finansial (tekfin) yang sejalan dengan Bali Fintech Agenda.
“Upaya yang akan dilakukan IMF dilatarbelakangi pertumbuhan perekonomian global yang diperkirakan melambat dari 3,6 persen pada 2018 menjadi 3,0 persen pada 2019, sebelum akhirnya diproyeksikan kembali melanjutkan momentum positif menjadi 3,4 persen pada 2020,” urai Dody.
Selain itu, pada rangkaian pertemuan tahunan tersebut juga diselenggarakan pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20.
Pada pertemuan tersebut Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyampaikan pentingnya mengatasi kerentanan di sektor keuangan yang disebabkan oleh fragmentasi di sektor keuangan untuk memastikan resiliensi dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
“Lebih lanjut, Bank Indonesia menekankan pentingnya melanjutkan agenda reformasi di sektor keuangan, dengan tetap memperhatikan fleksibilitas bagi otoritas sesuai dengan kondisi spesifik di setiap negara,” jelas Dody.
Menurut dia, hal ini dapat dicapai melalui identifikasi kerangka pengaturan dan pengawasan yang ada untuk mengatasi kerentanan yang ada dan kerja sama internasional yang dibutuhkan, termasuk yang disebabkan dari perkembangan teknologi.
Pada agenda lainnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia juga bertemu dengan beberapa otoritas keuangan dunia untuk memperkuat kerja sama dan bertukar informasi mengenai perkembangan ekonomi global, termasuk mendiskusikan agenda prioritas G20 dengan otoritas Arab Saudi yang akan menjadi Presidensi G20 tahun 2020.
Selain itu, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan juga melakukan pertemuan dengan lembaga pemeringkat dan investor untuk menginformasikan perkembangan terkini perekonomian Indonesia dan berbagai kebijakan serta upaya yang ditempuh Bank Indonesia bersama pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, dalam rangka mendorong pertumbuhan.