İqbal Musyaffa
25 April 2019•Update: 26 April 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pengamat penerbangan mengatakan maskapai perlu mengubah skema penjualan tiket pesawat untuk menghindari polemik tiket mahal sekaligus juga agar bisa meraih keuntungan.
Pengamat dari Jaringan Penerbangan Indonesia Gerry Soejatman mengusulkan adanya perbaikan yield management dalam penjualan tiket.
“Orang yang memesan tiket jauh sebelum jadwal penerbangan bisa direward maskapai dengan harga murah, sementara yang membeli di last minute harganya mahal,” urai Gerry kepada Anadolu Agency, Kamis.
Menurut dia, dengan sistem tersebut penumpang bisa mendapatkan akses tiket murah tanpa merugikan maskapai.
Gerry menjelaskan praktik seperti ini sudah lazim dilakukan di Eropa. Penumpang yang memesan tiket jauh sebelum jadwal terbang bisa mendapatkan tiket dengan harga Rp100 ribu.
Sementara yang memesan mendekati jadwal terbang bisa dikenakan harga Rp3 juta.
“Kalau di Indonesia semuanya mahal meskipun sudah booking 6 bulan sebelumnya karena maskapai masih pakai metode validitas tiket 20-30 tahun yang lalu,” kritik dia.
Gerry menambahkan metode ini juga dapat mendidik konsumen untuk mempersiapkan perjalanan jauh sebelum waktunya dengan membeli tiket jauh-jauh hari.
Dia mengatakan beberapa maskapai justru memberikan harga murah bagi yang memesan tiket saat-saat terakhir sebelum terbang.
Padahal, orang yang membeli tiket di saat-saat terakhir sebagian besar adalah untuk perjalanan bisnis, bukan untuk wisata sehingga wajar apabila dikenakan harga yang lebih mahal.
“Enak banget orang yang melakukan perjalanan bisnis tiketnya murah yang seharusnya harga itu untuk orang yang mau berwisata,” jelas dia.