Muhammad Nazarudin Latief
31 Mei 2019•Update: 31 Mei 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta pemudik Lebaran tahun ini memperhatikan aspek-aspek keselamatan di jalan raya.
Menurut Menteri Budi, fasilitas jalan tol yang sudah mulus bisa memicu pengendara untuk melaju lebih dari batas maksimal 100 kilometer per jam.
“Saya meminta kepada teman-teman di fungsi operasional untuk memberikan pengawasan apa yang terjadi," ujar dia saat mengunjungi posko pengamanan jalur mudik di Cikopo Jawa Barat, Jumat.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah para pemudik yang menggunakan sepeda motor. Antara lain dengan menyediakan tempat istirahat yang cukup dan membatasi kecepatan.
“Kita sudah sampaikan untuk tidak menggunakan sepeda motor, tapi tetap ada. Jumlahnya cukup masif,” ujar dia.
Aspek berikutnya ramp check atau uji kelaikan kendaraan.
“Saya sampaikan semua Kapolda Jabar, Jateng, Jatim, Banten dan Lampung dan selanjutnya nanti pada saat liburan Lebaran, kita minta tolong pengawasan.”
Sementara itu Ketua Harian Poso Pusat Terpadu Angkutan Lebaran 2019 Arif Toha Tjahjagoma mengatakan jumlah pemudik tahun ini secara keseluruhan menurun dari tahun lalu.
Hingga Jumat, belum ada lonjakan signifikan arus lalu lintas baik yang melewati jalur udara, darat maupun laut.
“Belum ada lonjakan yang signifikan. Masih normal,” ujar dia.
Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti mengatakan ada penurunan lalu lintas udara 20-30 persen dalam periode mudik tahun ini.
“Ini baru data sementara. Tetap saja ada bandara yang positif ada yang turun,” ujar dia dalam wawancara dengan salah satu stasiun televisi.
Pemerintah menurut dia sudah melakukan prediksi dari tren lalu lintas udara selama tiga bulan pertama tahun ini.
Hasilnya, akan ada pertumbuhan lalu lintas udara namun lebih kecil dibanding tahun lalu.
“Berdasarkan prediksi akan ada kenaikan sekitar 2 persen. Lebih rendah dari tahun lalu yang naik 5-6 persen,” ujar dia.
Polana tidak menghitung penurunan ini karena harga tiket pesawat yang melaju sangat tinggi belakangan ini, namun hanya tren pengguna pesawat.
Pengamat transportasi Joko Setyo Warno mengatakan tarif pesawat udara sebenarnya belum menyentuh batas atas. Namun selama ini masyarakat sudah lama menikmati tarif yang berada pada kisaran batas bawah.
“Tapi dalam tariff bawah ini terlalu lama, sehingga maskapai tidak kuat dan akhirnya mereka menaikkan harga,”ujar dia.