İqbal Musyaffa
25 Juli 2018•Update: 25 Juli 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Perbankan menyambut baik rencana Bank Indonesia (BI) untuk meluncurkan Indonesia Overnight Index Average (Indonia) pada akhir Juli mendatang.
Indonia akan menjadi acuan baru untuk menggambarkan transaksi dan kondisi likuiditas di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) untuk tenor satu hari (overnight) saja.
Chief Executive Officer Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan kepada Anadolu Agency di Jakarta, Rabu, bahwa langkah yang ditempuh BI tersebut sangat positif untuk membuat likuiditas keuangan tersedia di pasar.
“Kita memandang upaya ini bagus terlebih Indonesia saat ini sudah menjadi negara investment grade,” imbuh Batara.
Rencana peluncuran Indonia menurut Batara diperlukan perbankan agar likuditas menjadi longgar.
“Saat ini bukan hanya instrumen perbankan yang diperlukan, tapi juga instrumen di pasar keuangan,” lanjut dia.
Sebelumnya BI mengatakan setelah Indonia diluncurkan nanti, maka level bunga acuan overnight dalam Indonia akan diumumkan setiap hari oleh BI setiap jam 19.00 WIB.
Level bunga Indonia diambil dari rata-rata transaksi di pasar uang antar bank (PUAB) yang terjadi pada pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB di hari tersebut.
Penerapan acuan suku bunga overnight dalam Indonia menurut BI akan mengikuti praktik yang sudah berlangsung di beberapa negara seperti Inggris yang memiliki Sterling Overnight Index Average (Sonia).
Gubernur BI Perry Warjiyo beberapa saat lalu mengatakan langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik pasar keuangan di Indonesia.
Selain Indonia, agar pasar keuangan menjadi lebih atraktif, BI juga telah menerbitkan kembali sertifikat BI (SBI) dengan tenor 9 dan 12 bulan untuk menarik masuknya investasi portofolio asing ke Indonesia.
Perry mengatakan BI juga menetapkan biaya hedging yang lebih murah termasuk penggunaan swap valas dan lindung nilai dengan biaya cukup murah yakni 6,2 persen untuk swap 3 bulan dan 7,3 persen untuk swap 6 bulan.