İqbal Musyaffa
25 Juli 2018•Update: 25 Juli 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memprediksi ekspor tekstil pada tahun ini dapat tumbuh 7 persen meskipun menghadapi beberapa kendala.
Ketua API Ade Sudrajat Usman dalam keterangan medianya, Rabu, mengatakan industri terkstil saat ini sedang menanti keputusan Amerika Serikat tentang evaluasi fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) yang diberikan kepada sejumlah negara mitra dagang.
Hambatan industri tekstil lainnya, menurut Ade, adalah harga bahan baku yang tersedia di dalam negeri. Harga bahan baku dalam negeri seperti serat polyester untuk pembuatan benang justru kalah bersaing dengan bahan yang diimpor. Harga bahan baku benang dari dalam negeri, kata dia, 13 persen lebih mahal dari harga di luar negeri.
“Kondisi ini mengakibatkan merosotnya daya saing ekspor produk tekstil Indonesia hingga ke hilir,” ucap Ade.
Bahkan, lanjut Ade, eskpor tekstil Indonesia masih kalah bersaing dengan negara penerima fasilitas GSP lainnya seperti Vietnam dan Bangladesh.
Sebagai salah satu industri yang diprioritaskan oleh pemerintah, industri tekstil dan produk tekstil menurut Ade telah membuktikan kontribusi besar, yaitu 6,39 persen terhadap PDB pada tahun 2017.
“Namun demikian, kinerja ini masih banyak menyimpan permasalahan yang dihadapi oleh para produsen tekstil,” ujar dia.
Meski begitu, Ade mengatakan para pelaku industri tekstil masih tetap optimis ekspor tekstil dapat tumbuh. Akan tetapi, optimisme ini harus didukung oleh sinergitas antar pihak, seperti rangkaian para produsen dari hulu ke hilir, pendukung industri tekstil dan produk tekstil, serta penentu kebijakan.
Agar kondisi tidak semakin memburuk, Ade menekankan perlunya kerja sama antar produsen dan penentu kebijakan untuk mengevaluasi penerapan bea masuk komoditas bahan baku seperti serat polyester dan pengetatan pengawasan dari kementerian terkait.
“Diharapkan bila kebijakan bea masuk polyester ini dapat ditinjau lagi, maka harga bahan baku yang berdaya saing bisa meningkatkan produktifitas ekspor tekstil Indonesia di pasar dunia,” ungkap dia.
API menurut Ade menargetkan net ekspor dan nilai tambah yang disumbang oleh industri tekstil sampai akhir tahun 2018 menjadi USD4 miliar, lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2017 yang mencapai nilai USD3,5 miliar.