Iqbal Musyaffa
17 Oktober 2017•Update: 17 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Menteri Pariwisata Arif Yahya, Selasa, mengatakan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada periode Januari-Agustus 2017 sebesar 25,68 persen. Jumlah ini melampaui rata-rata regional ASEAN yang tumbuh 7 persen dan rata-rata dunia sebesar 6 persen.
Data tersebut dikutip Arif dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO). Bila dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia jauh melampaui pertumbuhan Malaysia yang turun 0,87 persen, Singapura tumbuh hanya 3,83 persen, dan Thailand yang tumbuh 5,05 persen.
“Dalam persaingan global, kecepatan pertumbuhan itu penting,” tegas Arif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 9,25 juta wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Indonesia periode Januari-Agustus tahun ini. Sementara pada periode yang sama tahun lalu, kunjungan wisman hanya sebanyak 7,36 juta.
Lebih lanjut Arif mengatakan, sektor pariwisata berkontribusi 10 persen terhadap PDB nasional dan merupakan nominal tertinggi di ASEAN. Pada 2016, sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar kedua dengan jumlah USD13,5 miliar setelah CPO yang menyumbang devisa USD15,9 miliar.
“Setiap wisatawan asing rata-rata menghabiskan USD1200 di Indonesia,” tambah Arif.
Berdasarkan tren kunjungan wisatawan asing pada tahun ini, maka kemungkinan besar pariwisata akan menjadi penyumbang devisa terbesar untuk Indonesia pada tahun ini.
“Biaya marketing pariwisata juga sangat murah, hanya 2 persen dari proyeksi devisa,” jelas dia.
Pertumbuhan kunjungan wisatawan asing di Indonesia, menurut Arif, tidak terlepas dari keberhasilan strategi pemasaran brand Wonderful Indonesia yang bercokol di posisi 47 dunia menurut World Economic Forum (WEF) 2017, mengalahkan Amazing Thailand di posisi 68 dan Truly Asia milik Malaysia di posisi 85.
Selanjutnya, peringkat indeks daya saing wisata dan travel Indonesia menurut WEF berada di posisi 42 dan ditargetkan menjadi 30 di dunia pada 2019.
Oleh karena itu, program pemerintah mengembangkan 10 destinasi wisata baru terus dilakukan, karena selama ini Indonesia hanya mengandalkan tiga destinasi wisata utama yaitu Bali, Jakarta Raya, dan Kepulauan Riau.
Pengembangan 10 destinasi wisata baru menurut Arif diperkirakan dapat mengundang 10 juta wisatawan mancanegara pada 2019 mendatang dan mendatangkan investasi sebesar USD20 miliar.
Selain penyumbang devisa yang besar, Arif mengatakan sektor ini juga menyumbangkan 9,8 juta lapangan pekerjaan atau 8,4 persen dari ketersediaan lapangan kerja nasional. Lapangan kerja sektor ini menurut Arif tumbuh 30 persen dalam lima tahun terakhir.
“Pariwisata juga adalah pencipta lapangan kerja termurah dengan besaran USD5000 tiap satu pekerjaan,” jelas dia.
Saat ini, jumlah sumber daya manusia sektor pariwisata Indonesia yang tersertifikasi sudah sebanyak 300 ribu orang, naik dua kali lipat dari tahun 2015.
“Pada 2019 ditargetkan ada 500 ribu pekerja wisata yang bersertifikat,” tambah Arif.