Muhammad Nazarudin Latief
26 Januari 2018•Update: 26 Januari 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Petani kelapa sawit Indonesia menganggap Parlemen Uni Eropa (UE) sedang berusaha membunuh 5,3 juta petani secara sistematis dengan mengeluarkan Crude Palm Oil (CPO) dari bahan pembuat biodiesel.
Sekretaris Jenderal Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Apkasindo) Asmar Arsjad mengatakan pemerintah Indonesia harus melakukan pendekatan pada Komisi Eropa dan Euro Council agar kesepakatan parlemen ini tidak menjadi keputusan eksekutif.
Menurut Asmar, alasan parlemen UE tentang deforestrasi dan sustainability perkebunan sawit sudah ketinggalan zaman. Kenyataannya, pemerintah bersama dengan Apkasindo serta asosiasi pengusaha sudah memperbaiki kelemahan tersebut.
“Jadi tidak pantas Indonesia dihukum atas isu-isu yang tidak bertanggungjawab,” ujar di Jakarta, Jumat.
Menurut Asmar, para petani sudah berusaha meningkatkan produktivitas kebun sawit, sehingga menghindari perluasan lahan. Di sisi lain, dunia sebenarnya juga sudah mengakui bahwa kelapa sawit adalah tanaman paling feasible memenuhi permintaan minyak nabati tanpa memerlukan lahan luas.
“Untuk 1 ton minyak nabati, sawit hanya perlu seperempat hectare. Kedelai maupun repeseed butuh 1 hektar lebih,” ujar dia.
Kepala Sekretariat Indonesia Sustainability Palm Oil (ISP) Aziz Hidayat mengatakan Indonesia sudah berusaha menerapkan standar untuk perkebunan sawit yang berkelanjutan dengan ISPO.
Menurut Aziz, standar ISPO melindungi taman nasional, sumber air, sungai dan daerah dengan keanekaragaman hayati tinggi.
“Jadi ISPO adalah kesadaran untuk memperbaiki lingkungan, sustainability dan daya saing,” ujar dia.