Muhammad Nazarudin Latief
27 Desember 2017•Update: 27 Desember 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Rabu mengungkapkan realisasi ekspor nikel Indonesia tahun ini lebih rendah ketimbang rekomendasi yang diberikan oleh pemerintah.
Realisasi ekspor nikel Indonesia hingga November tahun ini hanya mencapai 3 juta ton. Padahal, dengan rekomendasi Kementerian ESDM pada 14 perusahaan, seharusnya bisa mengekspor komoditas tersebut paling tidak 22,9 juta ton.
“Masih sangat kecil ekspor kita. Ini agak berat,” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono di Jakarta.
Di pasar dunia, menurut Gatot, terjadi penurunan permintaan nikel sejak 2004 karena permintaan atas stainless steel juga menurun.
Produsen stainless steel, sebagai industri pengguna nikel terbesar harus menurunkan tingkat produksinya, yang berakibat langsung atas menurunnya permintaan nikel dunia.
Pada 2016, terdapat peningkatan produksi stainless steel menjadi 25 juta ton dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang hanya pada kisaran 22 juta ton. Kondisi over suplai ini membuat produsen stainless steel menurunkan produksi pada 2017 dan kembali menekan permintaan nikel dunia.
Sebagai informasi, harga nikel dipengaruhi tingkat konsumsi stainless steel, penurunan harga stainless steel, serta meningkatnya stok Nikel London Metal Exchange (LME) dan hanghai Futures Exchange (SHFE).
Selama kurun waktu 6 bulan sejak Juli 2017, ujar Gatot, harga nikel menunjukkan tren meningkat dari USD9.012 per ton menjadi USD12.080 per ton pada Desember 2017.
Di sisi lain, Gatot juga menyebut realisasi ekspor komoditas bauksit juga tidak sesuai dengan rekomendasi.
Pemerintah memberi rekomendasi ekspor bauksit pada enam perusahaan sebanyak 14,9 juta ton, namun realisasinya hingga akhir November tahun ini Indonesia hanya mampu mengekspor 696 ribu ton bauksit.