Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengklaim stabilitas sistem keuangan masih terjaga di tengah tekanan ekonomi global yang terus meningkat.
Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK Sri Mulyani mengatakan pada saat konferensi pers di Jakarta, Selasa, bahwa pernyataan tersebut merupakan hasil pantauan lembaga KSSK terhadap perkembangan perekonomian, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan, dan penjaminan simpanan selama Triwulan II tahun 2018 serta mempertimbangkan perkembangan hingga tanggal 20 Juli 2018.
KSSK terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.
Pandangan KSSK bahwa stabilitas sistem keuangan masih terjaga menurut Menteri Sri dapat terlihat dari tingkat inflasi yang terjaga, likuiditas sistem keuangan yang mencukupi, cadangan devisa yang masih memadai, tingkat defisit APBN yang terkendali dan surplus keseimbangan primer, serta kinerja perbankan yang membaik.
“Selain itu juga terjadi peningkatan pertumbuhan kredit dengan tingkat risiko kredit yang terkendali, serta permodalan dan likuiditas perbankan yang kuat,” ungkap Menteri Sri.
Namun, KSSK menurut dia, sangat mencermati adanya tekanan pada nilai tukar dan SBN terutama yang berasal dari ekspektasi lanjutan kenaikan Fed Fund Rate dan sentimen dari perang dagang antara pemerintah AS dan Tiongkok.
“Mengantisipasi ketidakpastian perekonomian global tersebut, KSSK telah melakukan asesmen dan mitigasi terhadap berbagai potensi risiko yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan,” lanjut Menteri Sri.
Dia menambahkan, secara fiskal ada peningkatan kinerja APBN dari sisi pendapatan dan belanja negara, juga pembiayaan anggara.
Sampai dengan Semester I tahun ini, pendapatan negara dan hibah mencapai 44 persen dari target APBN 2018, lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 41,5 persen.
“Capaian tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan yang tumbuh 14 persen yoy dibandingkan Semester I 2017,” urai Menteri Sri.
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai 42,5 persen dari target APBN 2018, lebih tinggi dibandingkan 41,9 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Defisit anggaran di semester I tahun ini tercatat sebesar 0,74 persen terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan defisit pada tahun sebelumnya sebesar 1,29 persen terhadap PDB.
“Dengan demikian, di akhir Semester I 2018 keseimbangan primer tercatat surplus sebesar Rp10 triliun, lebih baik dibandingkan semester I tahun lalu yang defisit sebesar Rp66,8 triliun,” tekan Menteri Sri.
Lebih lanjut, dia memperkirakan defisit anggaran pada akhir tahun 2018 sebesar 2,12 persen terhadap PDB, lebih rendah dari target APBN 2018 sebesar 2,19 persen.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, untuk menjaga stabilitas sistem keuangan BI terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial dalam menjaga daya tarik pasar keuangan domestik sekaligus menjaga momentum pemulihan ekonomi.
BI juga telah menaikkan suku bunga acuan BI 7days Reverse Repo Rate menjadi 5,25 persen dan melonggarkan kebijakan Loan to Value untuk sektor properti.
“Bank Indonesia juga terus melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar,” ujar Perry.
Rupiah, menurut dia, saat ini tercatat Rp14.420 per dolar AS atau melemah 6 persen dari Januari 2018 (year to date). Pelemahan ini lebih rendah dibandingkan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Brazil, dan Turki.
news_share_descriptionsubscription_contact
