Muhammad Nazarudin Latief
18 Juli 2019•Update: 19 Juli 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Surabaya tahun ini akan menjadi kota pertama di Indonesia yang mendapat pasokan listrik dari pembangkit berbasis biomassa dari sampah.
Setiap hari Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTsa) Surabaya akan mengolah sampah sebanyak 1.500 ton dan menghasilkan listrik dengan kapasitas 10 megawatt, ujar Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agung Pribadi dalam siaran persnya, Kamis.
Menurut dia, nilai investasi untuk proyek tersebut sebanyak USD49,86 juta.
Pemerintah berkomitmen untuk mengoperasikan 12 PLTSa terhitung sejak 2019 hingga 2022.
"Sesuai rencana, 12 pembangkit tersebut akan mampu menghasilkan listrik hingga 234 MW dari sekitar 16 ribu ton sampah per hari."
PLTSa berikutnya adalah di Bekasi dengan kapasitas 9 MW dengan nilai investasi USD120 juta.
Selanjutnya, ada tiga pembangkit sampah yang berlokasi di Surakarta (10 MW), Palembang (20 MW) dan Denpasar (20 MW).
Menurut Agung, total investasi untuk menghasilkan setrum dari tiga lokasi yang mengelola sampah sebanyak 2.800 ton/hari sebesar USD297,82 juta.
Menurut Agung perkembangan PLTSa di Surabaya, DKI Jakarta, Bekasi, dan Solo cukup baik dan menunggu penyelesaian tahun ini.
"Kota-kota tadi termasuk di Bali menjadi prioritas utama penanganan sampah di bawah pengawasan Presiden Joko Widodo," ujar Agung.
Pembangkit PLTSa yang kini sedang dibangun adalah Jakarta sebesar 38 MW dengan investasi USD 345,8 juta, Bandung (29 MW - USD 245 juta), Makassar, Manado dan Tangerang Selatan dengan masing-masing kapasitas sebesar 20 MW dan investasi yang sama, yaitu USD 120 juta.
Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar sebelumnya mengatakan pembangunan PLTSa sebenarnya bertujuan untuk membersihkan sampah itu sendiri, sedangkan listrik yang dihasilkan adalah bonus yang patut disyukuri.
Semangat dari pembangunan PLTSa tidak hanya menyediakan listrik semata, namun membenahi manajemen sampah demi menciptakan lingkungan yang sehat.
Melalui kebijakan ini, selain tercipta penyediaan energi listrik secara terjangkau juga dapat memperbaiki kualitas lingkungan.