Iqbal Musyaffa
13 Oktober 2017•Update: 13 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia akan segera memasuki tahun pemilu mulai tahun depan hingga 2019. Situasi tersebut tidak perlu dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan ekonomi, kata Head of Intermediary Business Schroder Investment Management Indonesia Teddy Oetomo, Jumat.
Menurut dia, konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga menjelang pemilu presiden tahun depan justru meningkat karena didorong oleh maraknya pilkada di sejumlah daerah.
Menurut dia, tahun 2018 akan terjadi pilkada di 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten.
“Maka akan ada banyak uang yang berputar saat kampanye,” ujar dia.
Dari 17 provinsi yang menyelenggarakan pilkada, tiga di antaranya adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dihuni sekitar 40 persen populasi Indonesia.
“Dana kampanye yang berputar di tiga provinsi tersebut sangat berarti bagi pertumbuhan ekonomi,” jelas Teddy.
Belanja pemerintah – khususnya untuk pembangunan – juga akan naik menjelang pemilu, terutama menjelang pemilu presiden yang juga menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi.
“Berdasarkan tren ini, target pertumbuhan ekonomi pemerintah 5,4 persen bisa tercapai,” tambah dia.
Pada tahun pemilu presiden sebelumnya yaitu pada 2004, 2009, dan 2014, harga komoditas anjlok sehingga mengganggu performa ekspor. Sementara untuk tahun ini, ekspor Indonesia membaik melalui diversifikasi produk ekspor yang dilakukan pemerintah.
“Kalau harga komoditas membaik, tentu akan lebih baik lagi bagi perekonomian,” lanjut Teddy
Meskipun, apabila harga komoditas stagnan di tahun depan, Teddy memperkirakan pertumbuhan belanja konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah cukup kokoh menunjang pertumbuhan ekonomi.
“Yang perlu dikhawatirkan justru pertumbuhan ekonomi pada tahun pemilu dan setelahnya,” ungkap dia.
Pelemahan ekonomi pada tahun setelah pemilu, menurut Teddy, karena patokan pertumbuhan ekonomi di tahun sebelumnya relatif tinggi untuk kembali dicapai.
Sebagai contoh, pertumbuhan ekonomi setahun jelang pilpres pada tahun 2013 sebesar 5,56 persen. Sementara, pada saat pilpres 2014 pertumbuhan ekonomi hanya di angka 5,02 persen.
Begitupun pertumbuhan ekonomi satu tahun setelah pilpres yang justru semakin merosot ke angka 4,79 persen. Salah satu penyebabnya adalah ekspektasi pasar yang terlalu berlebih dengan terpilihnya Presiden baru.
Maka dari itu, Teddy berharap pasar tidak memberikan ekspektasi berlebih setelah pilpres nanti seperti yang terjadi di tahun 2015.
“Kita berharap setelah pilpres tidak kembali terulang tren penurunan [ekonomi] tersebut,” tegas Teddy.