Muhammad Latief
18 September 2017•Update: 18 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) mencatat perkembangan utang luar negeri sektor swasta hingga Juli 2017 sebesar USD 165,5 miliar. Nilai ini turun 1,2 persen (year on year/yoy) lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada Juni 2017 yang sebesar 0,7% (yoy).
Ini karena pertumbuhan utang pada sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas, dan air bersih (LGA) mengalami penurunan.
“Sektor keuangan dan sektor pertambangan masih mengalami kontraksi pertumbuhan,” sebut Bank Indonesia dalam rilis resminya.
Total utang luar negeri pada periode tersebut mencapai USD 339,9 miliar atau tumbuh 3,9 persen (yoy). Utang dari sektor publik lebih mendominasi, yaitu sebesar USD 174,3 miliar.
Kontribusi sektor publik pada total utang negeri sebesar 51,3 persen, sementara sektor swasta tercatat 48,7 persen atau turun 1,2 persen (yoy).
Jika dilihat jangka waktu asal, utang jangka panjang tumbuh terkendali sebesar 2,6% (yoy) pada Juli 2017, yaitu USD 293,9 miliar atau sebanyak 86,5 persen dari total utang.
Sementara itu, utang jangka pendek tumbuh 12,6 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 14,3 persen (yoy). Nilainya, tercatat USD 45,9 miliar atau 13,5 persen dari total utang.
BI memandang perkembangan utang tetap sehat dan terkendali. “Utang agar dapat berperan optimal dalam pembiayaan pembangunan tanpa ada risiko memengaruhi stabilitas makroekonomi.”