Erric Permana
02 Oktober 2018•Update: 03 Oktober 2018
Erric Permana
JAKARTA
Pemerintah memutuskan untuk sementara membiarkan narapidana yang melarikan diri dari lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di Kota Palu dan Kabupaten Donggala setelah gempa terjadi pada Jumat lalu.
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan para narapidana melarikan diri untuk keselamatan diri dan keluarganya saat gempa berkekuatan M 7.7 terjadi.
Berdasarkan catatannya, ada sekitar 400 narapidana yang kabur dari lapas dan rutan di Kota Palu, sementara sekitar 1000-an lebih narapidana kabur di Kabupaten Donggala.
“Jadi kondisinya sangat hectic, panik, mereka khawatir pada keluarganya. Jadi sementara karena alasan kemanusiaan dulu. Lapasnya hancur, mau gimana? Tembok roboh, saat gempa susulan mereka khawatir tertimpa reruntuhan,” ujar Menteri Yasonna di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa.
Meski begitu, Yasonna mengaku banyak narapidana yang tetap melapor kepada petugas di daerahnya masing-masing. KemenkumHAM pun berkata akan menindaklanjuti narapidana yang kabur tersebut setelah penanganan dampak bencana gempa selesai.
“Kalau mau masuk, mereka mau ditempatkan di mana? Kan, harus ke luar daerah,” tambah dia.
Opsi untuk memindahkan narapidana yang masih ditahan di lapas untuk pindah ke luar daerah tetap ada, kata dia, namun tentu membutuhkan dana darurat yang sangat besar.
Menteri Yasonna juga tidak khawatir banyaknya narapidana yang kabur karena pemerintah memiliki data lengkap seluruh narapidana.
“Sekarang didata, Kakanwil mapping solusi. Sementara ini banyak di antara staf kita berperan membantu orang-orang di sana. Hari ini barangkali sampai bantuan dari KemenkumHAM lewat laut dari Kalimantan Timur. Staf kita dikirimkan ke Palu,” jelas dia.
Sebelumnya diketahui, saat terjadi gempa di Sulawesi Tengah, para narapidana membakar rumah tahanan di Kabupaten Donggala yang berusaha melarikan diri karena panik.