Nicky Aulia Widadio
14 Februari 2019•Update: 14 Februari 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Satgas Tinombala mengidentifikasi bahwa anak kandung Santoso telah bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.
“Satgas berhasil mengidentifikasi satu orang lagi yang ikut bergabung, yaitu anak kandung Santoso,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di Jakarta, Kamis.
Polisi akan segera memasukkan anak kandung Santoso itu ke dalam daftar pencarian orang (DPO).
Namun, Satgas Tinombala belum mengetahui persis bagaimana anak kandung Santoso bisa bergabung dengan Ali Kalora.
“Antara direkrut dan inisiatif sendiri karena datang ke hutan. Kelompok Ali Kalora sedang kami identifikasi, nanti akan segera kami terbitkan status DPO,” ujar dia.
Satgas Tinombala juga menangkap satu orang kurir yang mengirim logistik makanan kepada kelompok Ali Kalora.
Selain itu, mereka menyekat jalur-jalur logistik untuk mempersempit ruang gerak kelompok Ali Kalora.
Ali Kalora diperkirakan bersembunyi di kawasan Gunung Biru dan Parigi Moutong, Poso, Sulawesi Tengah.
Sebelumnya, Polri telah mengultimatum Ali Kalora untuk menyerahkan diri sebelum 29 Januari 2019, namun ultimatum itu diabaikan.
Kelompok Ali Kalora bertanggung jawab atas pembunuhan seorang penambang emas di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah pada akhir Desember lalu.
Ali Kalora menjadi petinggi di MIT setelah sejumlah pimpinan kelompok ini satu per satu tewas dan ditangkap.
Pemimpin sekaligus pendiri MIT, Santoso tewas dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala di Pegunungan Biru, Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah pada Juli 2016 lalu.
Satgas Tinombala kemudian menangkap Basri, yang merupakan tangan kanan Santoso pada September 2016.
Sedangkan salah satu pentolan kelompok ini, Sabar Subagio alias Daeng Koro telah lebih dulu tewas dalam baku tembak pada April 2015 lalu.