Hayati Nupus
06 Desember 2017•Update: 06 Desember 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Ancaman terorisme global merupakan salah satu tantangan TNI ke depan, ujar Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Hadi Tjahjanto dalam pemaparan visi-misi uji kepatutan dan kelayakan di hadapan Komisi I DPR RI pada Rabu.
Uji kepatutan dan kelayakan ini merupakan bagian pencalonan Hadi menjadi Panglima TNI menggantikan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang akan pensiun Maret mendatang.
Terorisme, kata Hadi, merupakan musuh bersama yang harus diperangi. Berbagai kasus terorisme di Indonesia, Marawi, juga Daesh di Suriah berujung pada proxy war.
“Situasi ini semakin kompleks dengan arus globalisasi. Melalui media sosial dan internet, kelompok teroris mampu dengan cepat menyebarkan pengaruh dan mengaktifkan sel tidur terorisme yang sebelumnya telah ada,” kata dia.
Selain tantangan terorisme, Hadi juga menyoroti keamanan laut Indonesia sebagai negara kepulauan. Salah satu wilayah laut rawan berada di Laut Sulu yang berbatasan dengan Filipina dan Malaysia. Di wilayah itu marak perampokan bersenjata dan penculikan, salah satunya penculikan WNI oleh kelompok teror Abu Sayyaf pada Maret tahun lalu.
Hadi juga menyoroti soal ilegal fishing dan penyelundupan barang. Lewat ilegal fishing itu, kata Hadi, kapal asing tak hanya meraup ikan dari perairan Indonesia secara ilegal, tapi juga memuat senjata, Narkoba, bahkan perdagangan manusia.
“Kejahatan ini merupakan ancaman lain yang lebih besar dan terorganisir, dengan sindikat internasional,” kata Hadi.
Pencalonan Hadi sebagai Panglima TNI telah memperoleh restu dari Presiden RI Joko Widodo. Presiden telah bersurat soal persetujuan itu kepada DPR RI Senin lalu.